"Benteng ini menjadi saksi bisu masa keemasan kerajaan Hindu di Aceh. Konstruksinya terkenal sangat kokoh dengan bahan perekat rahasia tempo dulu. Pasalnya, meski pernah diterjang tsunami, benteng ini masih bisa berdiri tegak hingga kini, dan tak lapuk dimakan usia. Penasaran, ingin melihat langsung Benteng Indra Patra yang unik dan tangguh? Yuk, berpetualang ke Aceh!" tulis Instagram @Pesonaid_travel, dikutip Jumat (16/8/2019).
Semasa Kesultanan Aceh, Benteng Indra Patra berperan besar sebagai salah satu garis pertahanan dalam menghadapi Portugis. Benteng ini direbut dari Portugis oleh Darmawangsa Tun Pangkat (Iskandar Muda).
Semasa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636 M) benteng ini, bersama Benteng Inong Balee, Benteng Kuta Lubok, dan beberapa benteng lainnya menjadi pusat pertahanan Aceh, terutama dalam menghadang serangan dari arah laut. Posisi benteng yang berhadapan dengan Benteng Inong Balee di seberang timur Teluk Krueng Raya, berperan strategis dalam mencegah armada Portugis memasuki Aceh melalui teluk ini.
Benteng Indra Patra terdiri dari benteng utama berukuran 4.900 meter persegi, dan tiga benteng lainnya. Tapi, dua di antaranya telah hancur ketika tsunami Aceh. Konstruksi benteng ini disusun dari bongkahan-bongkahan batu gunung. Setelah itu, batu-batu gunung direkatkan dengan campuran kapur, tumbukan kulit kerang, tanah liat, dan putih telur.
Di dalam benteng utama terdapat dua stupa dengan kubah di atasnya, di masing-masing stupa memiliki sumur. Air di dalam sumur itu digunakan oleh umat Hindu untuk mensucikan diri ketika akan melaksanakan ritual ibadah.