Di tingkat Asia Tenggara, nilai pasar industri bakery juga diproyeksikan meningkat dari 10,89 miliar dolar AS pada 2023 menjadi 14,99 miliar dolar AS pada 2028. Pertumbuhan ini memperlihatkan besarnya peluang industri bakery sekaligus persaingan yang mendorong pelaku usaha menghadirkan produk dan kreasi baru.
Dalam pengembangan produk bakery dan pastry, pemilihan bahan baku menjadi salah satu faktor yang menentukan kualitas hasil akhir. Aroma, kelembutan, tekstur, hingga konsistensi produk perlu diperhatikan agar kreasi yang dihasilkan sesuai dengan kebutuhan konsumen.
Head of Marketing PT Flora Food Indonesia, Ade Savitri, mengatakan perubahan kebutuhan industri F&B turut memengaruhi cara pelaku usaha mengembangkan produk dan menu. Menurutnya, inovasi perlu berangkat dari pemahaman terhadap kebutuhan konsumen dan pelaku usaha kuliner.
"Bagi kami, inovasi bukan tentang membuat sesuatu yang sekadar berbeda saja. Yang lebih penting adalah bagaimana inovasi dapat membantu pelaku F&B mengeksplorasi cita rasa, tekstur, dan kreasi menu yang sesuai dengan kebutuhan konsumen," kata Ade dalam perilisan BlueBand Butter Blend dan BlueBand Canola Oil, belum lama ini.
"Karena itu, kami melihat pengembangan produk harus selalu berjalan beriringan dengan pemahaman terhadap kebutuhan pelaku F&B," tambahnya.
Dia berharap kolaborasi antara industri, chef, dan penyedia bahan dapat membuka lebih banyak ruang eksplorasi bagi perkembangan dunia kuliner.
"Kami berharap kolaborasi dan inovasi yang kami hadirkan dapat terus membuka ruang bagi para pelaku F&B untuk berkembang dan menciptakan lebih banyak kreasi. Kami percaya, ketika industri, chef, dan penyedia bahan dapat saling berbagi pengetahuan dan inspirasi, akan semakin banyak peluang baru yang dapat lahir dari dapur profesional," katanya.