Mengenal Mbok Yem, Lansia yang Jual Nasi Pecel Satu-satunya di Atas Awan Gunung Lawu 

Kiki Oktaliani
Mengenal Mbok Yem, penjual nasi pecel di Gunung Lawu (Foto: YouTube)

Awalnya seorang peracik jamu tradisional

Mbok Yem memiliki nama asli Wagiyem, usianya kini telah berumur 75 tahun. Mulanya, Mbok Yem adalah seorang penjual jamu, yang mencari bahan-bahan jamunya di sekitar Gunung Lawu bersama sang suami. Namun, setelah kematian sang suami, untuk mencari bahan-bahan jamu kemudian tugas tersebut digantikan oleh putranya. Awalnya Mbok Yem tidak memiliki rencana untuk membangun warung di puncak Lawu, namun setelah bertemu dengan seorang pendaki gunung, Mbok Yem membangun rumah sekaligus warungnya guna memenuhi kebutuhan logistik dari para pendaki gunung.

Hal paling mengesankan lagi, Mbok Yem memiliki peliharaan berupa seekor monyet di warungnya yang dinamakan “Temon Aditya”. Meskipun ada sang anak dan satu orang pekerja yang biasa membantu Mbok Yem di warung, hampir sebagian besar hari-hari Mbok Yem hanyalah seorang diri di atas puncak Lawu.

Bahkan, saat virus Covid-19 lalu menerpa Indonesia, Mbok Yem tetap bertahan di atas puncak gunung Lawu seorang diri. Hingga akhirnya jalur pendakian Lawu dibuka kembali, dan Mbok Yem melakukan rutinitasnya kembali untuk berjualan nasi pecel.

Dibantu porter untuk membawa bahan makanan

Di masa awal-awal berjualan di Gunung Lawu, Mbok Yem melakukan segala hal seperti membawa bahan makanannya ke puncak hanya ditemani oleh sang anak angkat, pak Muis yang telah menemaninya selama 17 tahun. Namun seiring bertambahnya usia, fisik Mbok Yem sudah tak dapat lagi melakukan hal fisik yang berat, sehingga dia meminta porter untuk membawa seluruh bahan makanannya ke atas. Untuk ongkos jasa porter ini, Mbok Yem harus merogoh kocek lumayan besar yaitu Rp500.000.

Mbok Yem turun dari puncak Lawu dengan bantuan tandu

Mengingat kondisi fisik Mbok Yem yang sudah tak lagi memungkinkan menjajaki turunan terjal dari Gunung Lawu, untuk mencapai ke kaki gunung Mbok Yem harus ditandu dua orang dengan biaya per orangnya sebesar satu juta rupiah. Diketahui juga Mbok Yem hanya turun ketika Lebaran Idul Fitri. Mbok Yem mengaku tak ingin menjadi beban bagi para anak-anaknya, sehingga dengan berjualan di puncak Lawu sangat membantu mewujudkan keinginannya tersebut.

Editor : Vien Dimyati
Artikel Terkait
Destinasi
15 hari lalu

Slow Travel ke Bhutan, Layak Jadi Tujuan Liburan Berikutnya!

Destinasi
24 hari lalu

Ada Si Pitung di Kota Tua Jakarta, Pesilat Betawi yang Curi Perhatian!

Destinasi
24 hari lalu

Hari Terakhir Libur Panjang, Ribuan Orang Wisata di Kota Tua Jakarta

Destinasi
25 hari lalu

10 Tempat Wisata Paling Ramai Dikunjungi saat Lebaran 2026 versi Kemenpar, Malioboro Nomor 1!

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal