Tetapi, bila ditilik dari sejarahnya, penjajah Mongol membawa teknik penyulingan arak ke kerajaan kuno Goryeo, yang kemudian dikenal sebagai Korea. Pada tahun 1950-an selama perang Korea, penyulingan beras dilarang, oleh karena itu orang Korea banyak yang mulai membuat minuman keras dengan ubi jalar.
Larangan beras dicabut selama tahun 1990-an, tetapi masih banyak merek soju tetap berpegang pada apa yang sekarang mereka anggap sebagai resep tradisional, entah itu dengan ubi jalar atau pati lainnya. Para konsumen juga sudah terbiasa dengan rasa manis dan kental dari ubi jalar ke minuman soju.
2. Punya rasa seperti vodka
Fakta minuman soju berikutnya adalah minuman soju mempunyai rasa seperti vodka, hanya saja lebih manis. Meski begitu, rasa soju cenderung manis lembut dan malty. Kini, soju juga tersedia berbagai rasa yang sesuai dengan selera lidah Anda. Mulai dari peach, lemon, anggur, strawberry dan ada juga rasa Yakult yang populer.
3. Memiliki kadar alkohol rendah dari minuman keras lain
Tak seperti vodka, kadar alkohol pada minuman soju cenderung lebih rendah daripada minuman keras lain. Kadar alkohol untuk vodka sendiri berkisar antara 40 hingga 50 persen ABV, tetapi soju bisa berkisar dari 16 hingga 45 persen. Namun seperti yang disebutkan sebelumnya, kadar alkohol yang paling umum untuk soju adalah 20 persen. Meski kadar alkoholnya lebih kecil, bukan berarti soju tidak memabukkan.
4. Terlibat dalam tradisi Korea
Banyak minuman Asia mulai dari alkohol hingga teh melibatkan tradisi atau ritual rumit saat atau sebelum dikonsumsi, begitu pula soju. Soju sendiri merupakan minuman komunal yang ditujukan untuk acara sosial. Selain itu, ada cara tersendiri dalam menikmati soju di Korea.