Dia mengingatkan, pemanasan pada suhu di atas 150 hingga 160 derajat Celsius dalam waktu lama berpotensi merusak sebagian asam amino yang terkandung di dalam telur. Akibatnya, kualitas protein dapat menurun.
Selain memperhatikan suhu, penggunaan minyak juga menjadi faktor penting dalam menentukan nilai gizi telur. Baik telur ceplok maupun telur dadar pada dasarnya memiliki kandungan gizi yang hampir sama.
"Secara umum tidak ada perbedaan kandungan gizi yang berarti antara telur ceplok dan telur dadar. Yang membedakan biasanya adalah kandungan lemak, bergantung dari jumlah minyak yang digunakan untuk memasak," ujarnya.
Dia menjelaskan, telur dadar umumnya menyerap lebih banyak minyak sehingga kandungan lemak dan kalorinya bisa lebih tinggi. Penambahan bahan seperti keju, sosis, tepung, atau daging cincang juga dapat meningkatkan nilai energi pada hidangan tersebut.
Bagi masyarakat yang sedang menjaga berat badan, Dr Karina menyarankan metode memasak tanpa minyak, seperti merebus, membuat poached egg, atau mengukus. Namun, telur ceplok maupun telur dadar tetap bisa menjadi pilihan sehat selama penggunaan minyak dibatasi, misalnya dengan memanfaatkan wajan anti lengket atau minyak semprot.