Get iNews App with new looks!
inews
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Bunyi Aturan Lengkap Bandara IMIP Berstatus Internasional sejak Agustus 2025
Advertisement . Scroll to see content

Dibanjiri Pabrik Nikel Asal China, Berapa Duit IMIP Morowali Masuk Negara?

Senin, 29 Januari 2024 - 07:40:00 WIB
Dibanjiri Pabrik Nikel Asal China, Berapa Duit IMIP Morowali Masuk Negara?
Pemandangan di kawasan industri berbasis nikel PT IMIP, Morowali, Sulawesi Tengah. Dengan 54 perusahaan di dalamnya, IMIP kini menjadi produsen nikel terbesar di Indonesia. (Foto: Dok. IMIP)
Advertisement . Scroll to see content

MOROWALI, iNews.id - Asap putih mengepul dari cerobong pembangkit listrik yang berdiri angkuh di kawasan industri PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP). Bergulung-gulung tanpa henti, lantas menguar di udara, seirama truk-truk pengangkut bahan tambang nikel hilir mudik menuju area pabrik. 

Nun jauh di laut, ratusan tongkang pengangkut batu bara menancapkan jangkar. Ponton yang sanggup mengangkut emas hitam ribuan ton itu menunggu antrean sandar di dua jetty (dermaga) untuk bongkar muat. Pelabuhan ini luar biasa sibuk, ditambah puluhan giraffe crane menjulang kokoh.

Kepulan asap power plant, lalu-lalang ribuan pekerja hingga tungku membara adalah sekelumit dari detak kehidupan IMIP, Desa Fatufia, Kecamatan Bahodopi, Kabupaten Morowali, Provinsi Sulawesi Tengah. Proses produksi berjalan nontstop. Pembangkit listrik berbahan bakar batu bara tak kenal libur demi menyuplai energi puluhan pabrik yang juga seolah berlari tanpa jeda.

“Produksi jalan terus, 1x24 jam, tujuh hari dalam seminggu. Karenanya pekerja juga terbagi dalam shift dari pagi, siang, malam,” ujar Direktur Operasional PT IMIP Irsan Widjaja saat mendampingi para pemimpin media nasional berkeliling kawasan industri IMIP, Jumat (19/1/2024). Turut serta dalam kegiatan ini Managing Director IMIP Hamid Mina dan Direktur Komunikasi Emilia Bassar.

Aktivitas smelter di GCNS yang mengolah ore nikel menjadi baja nirkarat. (Foto: Zem Teguh Triwibowo/iNews.id)
Aktivitas smelter di GCNS yang mengolah ore nikel menjadi baja nirkarat. (Foto: Zem Teguh Triwibowo/iNews.id)

Irsan menuturkan, meski beroperasi terus-terusan, namun ada kalanya sejumlah mesin mandek bekerja. Itu terjadi bisa mesin masuk jadwal perawatan (maintenance). Tapi itu bukan berarti keseluruhan pabrik otomatis berhenti. 

“Prinsipnya, dalam situasi normal ya semua industri beroperasi full (nonstop),” katanya.

IMIP merupakan perusahaan patungan antara Bintang Delapan Group, Sulawesi Mining Investmen (SMI) dan Shanghai Decent Investment (anak usaha Tsingshan Holding Group). Tsingshan, korporasi raksasa penguasan nikel asal Negeri Tiongkok memegang saham mayoritas yakni mencapai 49,7 persen disusul Bintang Delapan (25,3 persen) dan SMI (25 persen).

Titik awal IMIP dimulai pada 2013. Nota kesepahaman membangun kawasan industri terintegrasi di Morowali ditandai dengan penandatanganan ketiga perusahaan pendiri disaksikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden China Xi Jinping.

Selama dua tahun pertama, IMIP fokus menggarap infrastruktur pabrik, mulai konstruksi hingga fasilitas pendukung seperti akses jalan menuju pabrik hingga pelabuhan. Pada 2015, SMI berdiri dan diresmikan Presiden Joko Widodo. Ini menandai industrialisasi di Morowali.

Satu dekade lebih berjalan, IMIP melesat menjadi kawasan berbasis pengolahan nikel dengan mata rantai industri terpanjang di dunia. Bermula dari SMI, satu demi satu pabrik berdiri di Taman Tsingshan –julukan IMIP– ini. Total kini telah 54 pabrik beroperasi di IMIP, mulai smelter hingga perusahan daur ulang baterai.

“Ini kawasan industri dengan biaya logistik termurah di dunia. Mengapa, karena di sini semua terintegrasi,” ucap Hamid. 

Deretan crane raksasa di jetty (dermaga) PT IMIP untuk memperlancar proses loading dan unloading. (Foto: Zen Teguh Triwibowo/iNews.id)
Deretan crane raksasa di jetty (dermaga) PT IMIP untuk memperlancar proses loading dan unloading. (Foto: Zen Teguh Triwibowo/iNews.id)

Dia lantas menunjukkan salah satu pabrik yang mengolah bahan mentah (tanah tambang) menjadi ore nikel. Dari pabrik tersebut, ore nikel dikirim melalui conveyor ke smelter di sebelahnya. Di tempat itu, nikel dilebur hingga menjadi baja nirkarat (stainless steel). “Sangat efisien, tho?,” ujar adik kandung komisaris IMIP Halim Mina ini.

Untuk diketahui, secara umum terdapat dua jenis biji nikel yaitu nikel sulfida dan nikel oksida atau lazim disebut laterit. Nikel sulfide banyak berada di negara kawasan subtropis. Adapun laterit tersebut di khatulistiwa. Di Indonesia, cadangan laterit ditemukan mulai Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara hingga Papua.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyampaikan, nikel sulfida memiliki kadar nikel yang lebih tinggi daripada nikel laterit karena itu lebih mudah diolah dan menghasilkan produk-produk kelas pertama. Nikel sulfida memiliki pangsa dunia sebesar 40 persen, sementara nikel laterit 60 persen. Laterit atau nikel kadar rendah terbagi dalam dua jenis yakni lemonit dan saprolit.

Kembali ke IMIP, kawasan terintegrasi ini terdiri atas tiga klaster industri, masing-masing baja nirkarat, baja karbon (carbon steel) dan komponen baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV). Produk yang dihasilkan dari kawasan industri ini mulai nickel pig iron (NPI), feronikel, ferosilikon, nickel matte, lithium carbonate, stainless steel slab dan lain sebagainya.

Berapa Cuan untuk Negara?

Pertumbuhan IMIP yang sangat signifikan tak lepas dari nilai investasi yang terkucur pada jantung industri nikel Indonesia ini. Pada 2023, perseroan mencatat nilai investasi menembus 30,1 miliar dolar AS, jauh melambung dibandingkan ketika awal beroperasi pada 2015 sebesar 3,3 miliar dolar AS.

Pertanyaannya, dengan mega-industri beroperasi di dalamnya, berapa cuan IMIP mengalir untuk negara? Hamid Mina menegaskan, perseroan telah menyumbang pajak dan royalti kepada negara yang dari tahun ke tahun jumlahnya meningkat signifikan.

Pada tahun lalu, pajak dan royalti menembus Rp17 triliun. Angka ini terbang berlipat ganda bila dibandingkan pada 2015. “Di tahun pertama, pajak dan royalti ‘baru’ Rp306,8 miliar,” ucap Hamid.

Di tengah harga pasar nikel yang terus bergejolak, Hamid optimistis perseroan akan terus tumbuh. Investasi juga diyakini bakal terus mengalir. Sebagai bukti, IMIP sedang mengembangkan luas kawasan dari 5.000 hektare menuju 6.000 hektare. Lebih dari itu, pabri baterai juga bakal dibangun. 

“Harapannya tahun ini bisa (terwujud),” ujarnya kepada iNews.id.

Berdasarkan data perseroan, berikut nilai investasi serta setoran pajak dan royalti IMIP:

Nilai Investasi:
Tahun 2015: 3,3 miliar dolar AS
Tahun 2016: 4,1 miliar dolar AS
Tahun 2017: 5,3 miliar dolar AS
Tahun 2018: 5,9 miliar dolar AS
Tahun 2019: 6,6 miliar dolar AS
Tahun 2020: 10,2 miliar dolar AS
Tahun 2021: 15,3 miliar dolar AS
Tahun 2022: 20,9 miliar dolar AS
Tahun 2023: 30,1 milir dolar AS

Setoran pajak dan royalti:
Tahun 2015: Rp306,8 miliar
Tahun 2016: Rp885, 368 miliar
Tahun 2017: Rp2,1 triliun
Tahun 2018: Rp4 triliun
Tahun 2019: Rp4,6 triliun
Tahun 2020: Rp5,3 triliun
Tahun 2021: Rp9,8 triliun
Tahun 2022: Rp10 triliun
Tahun 2023: Rp17 triliun (estimasi).

Editor: Aditya Pratama

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut