Dirikan Trading Arm di Singapura, Pertamina: Jangan Disamakan dengan Petral

Rahmat Fiansyah · Rabu, 09 Oktober 2019 - 20:40 WIB
Dirikan Trading Arm di Singapura, Pertamina: Jangan Disamakan dengan Petral

Drum-drum milik Pertamina. (Foto: AFP)

JAKARTA, iNews.id - PT Pertamina (Persero) mendirikan anak usaha baru di Singapura dengan nama Pertamina International Marketing & Distribution Plt Ltd (PIMD). Pertamina menepis anggapan PIMD didirikan untuk menggantikan Petral yang sudah dibubarkan pada 2015 lalu.

VP Corporate Communication Pertamina Fajriyah Usman mengatakan, ada perbedaan yang mendasar antara PIMD dan Petral. PIMD merupakan trading arm Pertamina yang mengurusi impor minyak mentah untuk kebutuhan domestik sementara PIMD bertugas menjual produk Pertamina di pasar internasional.

"Jadi jelas PIMD jangan disamakan dengan Petral, karena PIMD fokus untuk menghasilkan pendapatan tambahan melalui penjualan di luar negeri, jadi bukan untuk memenuhi kebutuhan domestik," katanya melalui keterangan resmi, Rabu (9/10/2019).

BACA JUGA:

Harga Minyak Mentah Turun, Laba Bersih Pertamina Naik 2 Kali Lipat

BPH Migas Desak Harga BBM Nonsubsidi Turun

Fajriyah mengatakan, pemenuhan kebutuhan minyak mentah maupun produk BBM di dalam negeri tidak dilakukan PIMD. Sesuai amanat pemerintah, urusan itu dilakukan oleh internal Pertamina lewat divisi Integrated Supply Chain (ISC).

Dalam waktu dekat, kata Fajriyah, PIMD diminta untuk menangkap peluang bisnis bunker di Asia Tenggara, terutama Singapura. Dia menilai, saat ini perusahaan pengapalan di Singapura lebih memilih membeli bunker dari perusahaan lokal karena adanya fasilitas tax refund. Atas dasar itu, Pertamina membentuk anak usaha di sana.

"Target yang dipatok untuk penjualan bunker PIMD di tahap awal sekitar 60.000 MT per bulan, dan targetnya akan meningkat terus hingga 200.000 MT atau sekitar 5 persen dari market share bunker di Singapura yang memang sangat besar," ucapnya.

Ke depan, kata dia, PIMD juga akan mencari peluang penjualan produk lain ke konsumen akhir di pasar global dengan membangun bisnis BBM dan LPG ritel. Pertamina membidik Filipina, Thailand, dan Myanmar sebagai pasar baru.

“Kalau perusahaan migas lain bisa menggarap pasar kita, kenapa Pertamina tidak?," kata Fajriyah.


Editor : Rahmat Fiansyah