G7 Kumpulkan Rp8.900 Triliun untuk Saingi Proyek Sabuk dan Jalan China

Dinar Fitra Maghiszha ยท Selasa, 28 Juni 2022 - 15:31:00 WIB
G7 Kumpulkan Rp8.900 Triliun untuk Saingi Proyek Sabuk dan Jalan China
G7 kumpulkan Rp8.900 triliun untuk saingi proyek Sabuk dan Jalan China. (Foto: Reuters)

SCHLOSS ELMAU, iNews.id - Pemimpin Kelompok Tujuh (G7) berjanji akan mengumpulkan 600 miliar dolar AS atau setara Rp8.900 triliun dari dana swasta atau publik selama lima tahun. Dana tersebut akan digunakan untuk membiayai infrastruktur yang dibutuhkan negara-negara berkembang sekaligus menyaingi proyek Sabuk dan Jalan (Belt and Road) China bernilai triliunan dolar AS. 

Presiden AS Joe Biden dan para pemimpin G7 lainnya meluncurkan kembali Kemitraan untuk Infrastuktur dan Investasi Global yang baru berganti nama pada pertemuan tahunan mereka yang diadakan tahun ini di Schloss Elmau, Jerman selatan. 

Biden mengatakan, AS akan memobilisasi 200 miliar dolar AS dalam bentuk hibah, dana federal, dan investasi swasta selama lima tahun untuk mendukung proyek-peroyek di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah yang membantu mengatasi perubahan iklim serta meningkatkan kesehatan global, kesetaraan gender, dan infrastuktur global. 

"Saya ingin memperjelas, ini bukan bantuan atau amal. Ini adalah investasi yang akan memberikan keuntungan bagi semua orang," kata Biden, dikutip dari Reuters, Selasa (28/6/2022). 

Biden menuturkan, ratusan miliar dolar AS tambahan dapat berasal dari bank pembangunan multilateral, lembaga keuangan pembangunan, dana kekayaan negara dan lainnya.

Sementara Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen mengatakan, Eropa akan memobilisasi 300 miliar euro atau sekitar 317,28 miliar dolar AS untuk prakarsa selama periode yang sama guna membangun alternatif berkelanjutan untuk skema China Belt and Road Initiative (BRI), yang diluncurkan Presiden China Xi Jinping pada 2013. 

Para pemimpin Italia, Kanada, dan Jepang juga berbicara tentang rencana mereka, beberapa di antaranya telah mengumumkan secara terpisah. Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Perdana Menteri Inggris Boris Johnson tidak hadir, tetapi negara mereka juga berpartisipasi.

Skema investasi China melibatkan pengembangan dan program di lebih dari 100 negara yang bertujuan menciptakan versi modern dari jalur perdagangan Jalur Sutra kuno dari Asia ke Eropa. Pejabat Gedung Putih mengatakan, rencana itu hanya memberikan sedikit manfaat nyata bagi banyak negara berkembang.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Zhao Lijian membela rekam jejak BRI ketika dimintai komentar pada briefing harian di Beijing pada Senin (27/6/2022).

"China terus menyambut semua inisiatif untuk mempromosikan pembangunan infrastruktur global. Kami percaya tidak ada keraguan bahwa berbagai inisiatif terkait akan saling menggantikan," kata Zhao tentang rencana G7 senilai 600 miliar dolar AS.

Sementara itu, Biden menyoroti beberapa proyek unggulan, termasuk proyek pengembangan tenaga surya senilai 2 miliar dolar AS di Angola dengan dukungan dari Departemen Perdagangan, Bank Ekspor-Impor AS, perusahaan AS AfricaGlobal Schaffer, dan pengembang proyek AS Sun Africa.

Bersama dengan anggota G7 dan UE, Washington juga akan memberikan bantuan teknis sebesar 3,3 juta dolar AS kepada Institut Pasteur de Dakar di Senegal dalam rangka mengembangkan fasilitas manufaktur multivaksin fleksibel skala industri di negara itu yang pada akhirnya dapat memproduksi Covid-19 dan vaksin lainnya. Ini merupakan sebuah proyek yang juga melibatkan UE.

Badan Pembangunan Internasional AS (USAID) juga akan memberikan komitmen hingga 50 juta dolar AS selama lima tahun ke Dana Insentif Penitipan Anak global Bank Dunia.

Wakil Presiden kelompok nirlaba Global Citizen Friederike Roder mengatakan, komitmen investasi bisa menjadi awal yang baik menuju keterlibatan yang lebih besar oleh negara-negara G7 di negara-negara berkembang dan dapat mendukung pertumbuhan global yang lebih kuat untuk semua.

Dia mengungkapkan, negara-negara G7 rata-rata hanya memberikan 0,32 persen dari pendapatan nasional bruto mereka, kurang dari setengah dari 0,7 persen yang dijanjikan dalam bantuan pembangunan.

"Tapi tanpa negara berkembang, tidak akan ada pemulihan ekonomi dunia yang berkelanjutan," ujarnya. 

Editor : Jujuk Ernawati

Bagikan Artikel:







Lokasi Tidak Terdeteksi

Aktifkan untuk mendapatkan berita di sekitar Anda