Harga Minyak Mentah Naik hingga 4 Persen, Ini 3 Pemicunya
Pemicunya, mata uang AS melemah pada Jumat (9/9/2022), sehingga memberikan daya apung pada minyak. Indeks dolar, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama, turun 0,64 persen menjadi 109,0030 pada penutupan perdagangan. Secara historis, harga minyak berbanding terbalik dengan harga dolar AS.
Selain itu, ancaman Presiden Rusia Vladimir Putin yang akan menghentikan ekspor minyak dan gas ke Eropa jika pembatasan harga diberlakukan dan pemotongan kecil untuk rencana produksi minyak OPEC+ yang diumumkan minggu ini, juga mendukung penguatan harga minyak.
"Selama beberapa bulan mendatang, Barat harus menghadapi risiko kehilangan pasokan energi Rusia dan melonjaknya harga minyak," kata Stephen Brennock dari pialang minyak PVM.
Kekhawatiran terhadap prospek permintaan minyak yang berkurang juga dipicu perpanjangan lockdowm (penguncian) Kota Chengdu oleh otoritas China, akibat pandemi Covid-19 yang belum sepenuhnya melandai. Pemerintah China juga mengeluarkan imbauan agar warga negara itu menghindari perjalanan selama liburan mendatang.
Ketiga pemicu tersebut membuat pelaku pasar mengabaikan lonjakan tak terduga dalam stok minyak mentah AS. Badan Informasi Energi AS melaporkan Kamis (8/9/2022) bahwa persediaan minyak mentah komersial negara itu meningkat sebesar 8,8 juta barel selama pekan yang berakhir 2 September.
Analis yang disurvei oleh S&P Global Commodity Insights memperkirakan pasokan minyak mentah AS menunjukkan penurunan 1,8 juta barel.
Editor: Jeanny Aipassa