Inflasi Zona Eropa Cetak Rekor 8,6 Persen, ECB Bakal Naikkan Suku Bunga

Dinar Fitra Maghiszha · Sabtu, 02 Juli 2022 - 17:00:00 WIB
Inflasi Zona Eropa Cetak Rekor 8,6 Persen, ECB Bakal Naikkan Suku Bunga
Inflasi zona Eropa cetak rekor 8,6 persen, ECB bakal naikkan suku bunga.

BERLIN, iNews.id - Inflasi zona Eropa mencapai rekor tertinggi baru pada Juni 2022. Ini membuat Bank Sentral Eropa (ECB) akan menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya dalam 11 tahun terakhir. 

Berdasarkan laporan yang dirilis Kantor Stastistik Eropa Eurostat, inflasi utama pada Juni mencapai 8,6 persen secara tahunan. Angka itu lebih tinggi dibanding bulan sebelumnya sebesar 8,1 persen dan prediksi ekonomi sebesar 8,4 persen. Ini artinya, biaya hidup di zona Eropa terus melonjak.  

Namun Jerman mengejutkan banyak orang pada awal pekan ini ketika melaporkan penurunan inflasi 0,5 persen secara bulanan menjadi 8,2 persen. Para ahli mengatakan, itu karena subsidi pemerintah untuk mengurangi dampak dari naiknya harga energi, namun itu belum mengakhiri lonjakan tingkat inflasi. 

Sementara Prancis dan Spanyol mengalami rekor inflasi baru pada Juni. Bahkan, inflasi Spanyol melampaui ambang batas 10 persen untuk pertama kalinya sejak 1985. 

Adapun ECB, yang telah berjanji untuk mengatasi lonjakan harga akan mengadakan rapat pada akhir Juli untuk mengumumkan kenaikan suku bunga. Bank sentral menyatakan, bakal menaikkan lagi suku bunga pada September 2022, yang berarti suku bunga utamanya dapat kembali ke wilayah positif tahun ini. ECB telah menahan suku bunga di level negatif sejak 2014.

"Jika prospek inflasi tidak membaik, kami akan memiliki informasi yang cukup untuk bergerak lebih cepat," kata Presiden ECB Christine Lagarde tentang periode setelah kenaikan suku bunga pada September mendatang, dikutip dari CNBC International, Sabtu (2/7/2022). 

Namun, ada pertanyaan yang berkembang tentang masa depan kebijakan moneter di zona Eropa di tengah kekhawatiran resesi dalam beberapa bulan mendatang. Jika bank sentral bergerak cepat dalam menaikkan suku bunga, ini dapat menghambat pertumbuhan ekonomi lebih jauh pada saat perlambatan sedang berlangsung.

Data aktivitas bisnis terbaru menunjukkan, zona Eropa sudah kehilangan tenaga. Pertanyaan keseluruhannya adalah apakah zona Eropa akan berhasil lolos dari resesi tahun ini, atau justru akan terjadi pada tahun depan.

Ekonom Berenberg memperkirakan resesi di zona Eropa terjadi pada 2023 dengan kontraksi produk domestik bruto (PDB) sebesar 0,8 persen. Namun, tekanan ekonomi lebih lanjut dari invasi Rusia ke Ukraina, terutama terkait energi dan ketahanan pangan dapat membuat kawasan itu mengalami perlambatan yang lebih cepat dari yang diperkirakan.

Sejauh ini, para pejabat Eropa menghindari pembicaraan mengenai resesi.

"Kami masih mengharapkan tingkat pertumbuhan positif karena penyangga domestik terhadap hilangnya momentum pertumbuhan," ujar Lagarde. 

ECB memperkirakan, tingkat PDB Juni sebesar 2,8 persen untuk kawasan Eropa. Namun, pembuat kebijakan di Frankfurt menyadari perlambatan ekonomi merupakan risiko besar yang perlu mereka pantau.

Kepala ekonom perbankan Philip Lane mengatakan, perlu tetap waspada selama beberapa bulan mendatang.

"Dengan ketidakpastian, kita harus mengelola dua risiko. Di satu sisi, itu bisa menjadi kekuatan yang menjaga inflasi lebih tinggi dari yang diharapkan lebih lama. Di sisi lain, kami memiliki risiko perlambatan ekonomi, yang akan mengurangi tekanan inflasi," tuturnya.

Editor : Jujuk Ernawati

Bagikan Artikel:







Lokasi Tidak Terdeteksi

Aktifkan untuk mendapatkan berita di sekitar Anda