Kisah Hendra dari Berutang Rp2 Miliar dan Jadi Gelandangan, Kini Punya Pabrik Skincare

Suparjo Ramalan ยท Minggu, 24 Oktober 2021 - 20:00:00 WIB
Kisah Hendra dari Berutang Rp2 Miliar dan Jadi Gelandangan, Kini Punya Pabrik Skincare
Hendra dulu berutang Rp2 miliar dan jadi gelandangan, kini punya pabrik skincare. Foto: YouTube Pecah Telur

JAKARTA, iNews.id - Owner Salina Herbal, M Taufik Hendradinata mencapai kesuksesannya dengan penuh liku. Dia pernah bangkrut dan memiliki utang mencapai Rp2,2 miliar, lalu menjadi gelandangan dengan tinggal di teras masjid hingga akhirnya bangkit dan memiliki pabrik skincare

Kisah pria dengan panggilan Hendra ini dimulai pada 2007 lalu. Kala itu, dia mengawali usaha dengan membuka bisnis laundry dari 1 menjadi 3 cabang dan 15 agen. 

Saat bisnis laundry-nya berjalan, datang investor yang mengajaknya membuka waralaba di bidang pendidikan pada 2010. Dia tertarik dan menginvestasi uang sebesar Rp800 juta. Namun ternyata kerja sama itu tidak kunjung direalisasikan. Hendra ditipu, bisnis tersebut macet dan usaha laundry miliknya terdampak. 

"Dari 2010 sampai sekarang enggak dibuka outletnya. Orangnya menghilang, laundry macet, gali lobang tutup lobang," kata dia, dikutip dari YouTube PecahTelur, Minggu (23/10/2021).

Untuk melunasi utang-utangnya, dia menjual aset yang dimiliki, seperti mobil, rumah, hingga perabotan. Bahkan, dia sampai menjual peralatan makan. Hendra pun dikejar-kejar debt collector karena utangnya masih banyak dan kesulitan melunasinya.
  
"Debt collector pernah datang ngamuk, maki-maki. Saya enggak bisa jelasin, saya cuma punya diri ini. Kira-kira apa yang bisa buat utang bisa lunas? Kalau dengan penjarakan bisa lunas, silakan (penjarakan). Yang ada sisa tubuh ini doang, bahkan sendok-sendok sudah dijual," tuturnya. 

Di tengah kesulitan itu, sang mertua berusaha membantu dengan menjual 75 persen rumah. Namun hasil dari penjualan rumah masih belum bisa menutup utangnya. Dan karena dia tak lagi memiliki tempat tinggal, dengan uang Rp700.000 di kantong, Hendra menyewa kos putri untuk istri dan ketiga anaknya. Sementara dia hidup menggelandang. 

"Saya punya uang Rp700.000. Kos keluarga dengan harga segitu kondisinya memperihatinkan, akhirnya saya bilang ke istri untuk menyewa kosan putri dan saya gelandang, tinggal di teras masjid. Mau beli makan pun enggak ada (uang), sedangkan yang nelpon nagih utang masih ada," ujarnya.  

Editor : Jujuk Ernawati

Halaman : 1 2

Bagikan Artikel: