Luhut: Kita Tidak Bisa Abaikan China

Aditya Pratama · Senin, 22 Juni 2020 - 15:10 WIB
Luhut: Kita Tidak Bisa Abaikan China

Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi, Luhut Pandjaitan. (Foto: Ant)

JAKARTA, iNews.id - Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi, Luhut Pandjaitan mengatakan, perekonomian Indonesia tergantung pada China. Dengan begitu, peran China sebagai negara ekonomi terbesar kedua di dunia tak bisa diabaikan.

"Kadang kita nyinyir lihat China tapi China itu 18 persen mengontrol ekonomi dunia, suka tidak suka kita enggak bisa ignore keberadaan dia," ujar Luhut saat rapat dengan Badan Anggaran DPR, Senin (22/6/2020).

Menurut Luhut, ekonomi Indonesia yang tertekan Covid-19 juga terkait dengan kondisi ekonomi China yang mengalami masalah serupa.

Selain kontribusinya terhadap produk domestik bruto (PDB) dunia cukup besar, kata Luhut, lokasi geografis China yang dekat dengan Indonesia membuat hubungan semakin kuat. Namun, dia menegaskan Indonesia juga menjalin hubungan baik dengan negara lain seperti AS.

"Apalagi jarak kita dekat dengan dia (China) sehingga kita harus memelihara dalam soft power antara bagaimana kita berhubungan dengan Timur Tengah, bagaimana dengan China, bagaimana dengan Amerika Serikat," kata dia.

Purnawirawan jenderal TNI itu menilai, sejak Joko Widodo menjabat presiden, hubungan antara Indonesia dengan China, AS, bahkan Timur Tengah sangat baik. Dia mencontohkan adanya investasi yang masuk pertama kali ke Tanah Air dari Abu Dhabi sebanyak 20 miliar dolar AS dan keseluruhan statusnya tengah berjalan (on going).

Untuk China, Luhut memprediksi investasi dari Negeri Tirai Bambu akan terus meningkat. Dia menegaskan, semua investasi asing, termasuk China harus mematuhi aturan dan syarat di Indonesia.

"Jadi tidak sekadar masuk, ada lima kriteria untuk masuk Indonesia, pertama, dia harus bawa first class technology, kedua, dia harus technology transfer, ketiga, dia harus (memberikan) added value, empat, dia harus melakukan b to b (business to business), kelima, dia harus menggunakan tenaga kerja Indonesia sebanyak mungkin," tuturnya.

Editor : Rahmat Fiansyah