Penumpang KRL Yogyakarta-Solo pada 2021 Bisa Tembus 6 Juta Orang

Suparjo Ramalan · Selasa, 19 Januari 2021 - 21:13:00 WIB
Penumpang KRL Yogyakarta-Solo pada 2021 Bisa Tembus 6 Juta Orang
Tingkat keterisian atau okupansi Kereta Rel Listrik (KRL) koridor Yogyakarta-Solo pada 2021 diproyeksi bisa mencapai 6 juta penumpang.  (Foto: Sindonews)

JAKARTA, iNews.id - Direktur Jenderal (Dirjen) Perkeretaapian Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Zulkifli menyebutkan tingkat keterisian penumpang atau okupansi Kereta Rel Listrik (KRL) koridor Yogyakarta-Solo pada 2021 bisa mencapai 6 juta orang. Jumlah tersebut merupakan hasil studi kelayakan pembangunan Kementerian Perhubungan. 

Bahkan, okupansi KRL Yogyakarta-Solo juga diproyeksikan naik signifikan hingga 2035. Jumlah penumpang pada tahun mendatang mencapai 29 juta orang. Kenaikan itu seiring dengan penambahan penyediaan infrastruktur atau pelayanan di koridor di dua wilayah itu kedepannya.  

"Hasil studi kelayakan pembangunan elektrifikasi Yogya-Solo didapati bahwa peningkatan potensi penumpang di koridor ini (KRL Yogya-Solo) sangat signifikan. Data tersebut menyebutkan pada 2021 sebelum kita membamgun (KRL), itu sudah diprediksi bahwa pada 2021 ini potensi penumpang hampir 6 juta. Dan di tahun 2035 nantinya akan terjadi kebangkitan baru dengan penyediaan pelayanan yang semakin tinggi," ujar Zulkifli dalam Webinar, Selasa (19/1/2021).  

Proyeksi bahwa tingginya kenaikan penumpang Yogya-Solo mendasari Kementerian Perhubungan melalui PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI membangun proyek KRL yang menghubungkan dua Provinsi itu. Pertimbangan lain karena Yogya-Solo merupakan kawasan objek wisata. Hal ini dinilai mampu mendorong masifnya penggunaan transportasi massal.  

Kenapa KRL perlu dikembangkan di Yogya-Solo untuk memenuhi kebutuhan permintaan tadi. Koridor Yogya-Solo ini banyak dinikmati mahasiswa atau wisatawan maupun masyarakat yang sekedar berbelanja di kedua wilayah tersebut dengan tarif terjangkau," katanya.  

Pemilihan KRL sebagai sarana kereta api di lintasan Yogya-Solo tidak terlepas dari adanya peningkatan kepadatan lalu lintas dalam pergerakan penumpang di wilayah aglomerasi tersebut. 

KRL di koridor ini menggantikan operasi kereta api Prambanan Ekspress atau Prameks yang bergerak dengan mesin diesel sejak 1994. Pembangunanya juga menjadi rencana induk kereta api dengan penggunaan energi listrik sebagai penggerak efektif efisien dan ramah lingkungan. 

KAI telah membangun sarana dan prasarana KRL tersebut sejak 21 Juli 2020. Pembangunan dilakukan dari Stasiun Tugu Yogyakarta sampai Stasiun Balapan Solo. Dalam pengoperasian KRL Yogyakarta-Solo secara penuh dilakukan pada akhir Desember 2020. 

Untuk tahap awal, kapasitas KRL ini 200 kursi untuk empat gerbong. Ke depan, kapasitas akan meningkat antara 800-1.000 kursi dengan 12 gerbong. Kehadiran KRL dinilai sangat penting agar beban jalan raya bisa berkurang. 

"Program ini merupakan yang pertama kali di DIY karena daerah lain belum dibangun, karena melihat jalur Yogyakarta-Solo sangat potensial penumpangnya," ujar Zulkifli.

Editor : Dani M Dahwilani