Rupiah Hari Ini Ditutup Melemah Rp14.983 per Dolar AS, Ini Pemicunya

Viola Triamanda · Selasa, 20 September 2022 - 18:02:00 WIB
 Rupiah Hari Ini Ditutup Melemah Rp14.983 per Dolar AS, Ini Pemicunya
Nilai tukar rupiah terhadap dolar ditutup melemah pada perdagangan hari ini, Selasa (20/9/2022). (Foto: dok iNews)

JAKARTA, iNews.id - Nilai tukar rupiah hari ini, Selasa (20/9/2022) ditutup melemah 6 point di level Rp14.983 per dolar Amerika Serikat (AS). Hal itu, membuat rupiah semakin mendekati level 15.000 per dolar AS.

Pengamat Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pelemahan rupiah terutama dipicu faktor internal atay dalam negeri, salah satunya adalah kebijakan subsidi energi yang diterapkan pemerintah. 

"Tahun ini dinilai momentum yang paling tepat dengan pertimbangannya adalah masih adanya ruang diskresi dalam Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2022 terkait defisit dan soal ongkos politik yang akan makin besar jika ditunda" jelasnya melalui keterangan resmi yang dikutip oleh MPI, Selasa (20/9/22). 

Menurut Ibrahim, kebijakan tersebut akan menimbulkan beberapa implikasi, seperti inflasi meski sifatnya temporer, serta resistensi dan pro kontra dari masyarakat terhadap kebijakan baru.

Dia menjelaskan, ruang diskresi terkait defisit pada APBN 2022 dan kondisi APBN Semester Pertama  2022 yang surplus juga menjadi semakin menguatkan bahwa momentum reformasi kebijakan subsidi yang tepat adalah tahun ini. Dengan demikian, jika terjadi risiko akibat reformasi tersebut masih dapat diredam dengan fleksibilitas APBN.

Selain itu, survei pemantauan harga yang dilakukan Bank Indonesia (BI) pada minggu III September 2022 menunjukkan, perkembangan inflasi sampai dengan minggu ketiga September 2022 diperkirakan inflasi sebesar 1,09 persen (mtm).  Sedangkan penyumbang inflasi  yaitu bensin sebesar 0,91 persen (mtm), angkutan dalam kota sebesar 0,04 persen (mtm).

Kemudian, angkutan antar kota, telur ayam ras, dan beras masing-masing sebesar 0,02 persen (mtm), serta rokok kretek filter dan bahan bakar rumah tangga (BBRT) masing-masing sebesar 0,01 persen (mtm). 

"Ke depan, BI akan terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah dan otoritas terkait dan terus mengoptimalkan strategi bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan guna mendukung pemulihan ekonomi lebih lanjut" ungkap Ibrahim. 

Sementara itu, pengaruh eksternal yang menyebabkan pelemahan rupiah adalah posisi dolar yang tetap berada di level tertingginya karena investor bersiap atas kemungkinan kenaikan suku bunga yang agresif oleh The Fed untuk mengendalikan inflasi yang semakin memanas. 

"Bank sentral secara luas diperkirakan akan menaikkan suku bunga sebesar 75 basis poin bps pada hari Rabu" kata Ibrahim. 

Para pelaku pasar memperkirakan kemungkinan kenaikan mengejutkan sebesar 100 basis poin. Ekspektasi untuk kenaikan tajam oleh The Fed diperkuat setelah data pekan lalu menunjukkan inflasi AS mendekati level tertinggi 40 tahun pada Agustus.

Di samping itu, dia memprediksi, untuk perdagangan besok, Rabu (21/9) mata uang rupiah kemungkinan dibuka berfluktuatif namun ditutup melemah di rentang  Rp14.970-Rp15.020.

Editor : Jeanny Aipassa

Bagikan Artikel:







Lokasi Tidak Terdeteksi

Aktifkan untuk mendapatkan berita di sekitar Anda