Selama Pandemi, 755.000 Ton Produk Serat dan Kertas Indonesia Diekspor ke-75 Negara

Advenia Elisabeth ยท Kamis, 02 Desember 2021 - 15:58:00 WIB
Selama Pandemi, 755.000 Ton Produk Serat dan Kertas Indonesia Diekspor ke-75 Negara
Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi. (Foto: dok Kemendag)

JAKARTA, iNews.id - Sebanyak 755.000 produk serat viscose rayon dan kertas PaperOne asal Indonesia telah diekspor ke 75 negara di tengah situasi pandemi Covid-19. 

Menteri Perdagangan (Mendag), Muhammad Lutfi, mengatakan di tengah situasi tidak menentu, Indonesia bisa terus menunjukkan eksistensinya dalam hal ekspor produk berkualitas ke pasar global.

Hal itu, tercermin dari produk serat viscose rayon dari PT Asia Pacific Rayon (APR) dan kertas PaperOne dari PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) yang telah dijual ke lebih dari 75 negara dengan total ekspor mencapai lebih dari 755.000 ton.

"Di tengah situasi pandemi Covid-19 yang membuat perdagangan dunia tidak menentu, Indonesia bisa berproduksi dan bertanggung jawab bukan hanya kepada produk kertas Indonesia, namun juga kepada hutan yang menjadi pijakan hidup bangsa Indonesia di masa sekarang dan yang akan datang," ujar Mendag Lutfi, dalam keterangan tertulis, Kamis (2/12/2021).

Menurut dia, pemerintah akan terus menjaga perdagangan yang baik untuk meningkatkan ekspor sekaligus memulihkan ekonomi nasional secara berkesinambungan.

“Di samping itu, Kementerian Perdagangan akan terus menjaga situasi perdagangan yang baik untuk bisa menjadi penetrasi ke pasar dunia dan bersama-sama menjaga kesinambungan produk Indonesia di dalam negeri," ujar Mendag Lutfi. 

Sementara itu, Wakil Gubernur Riau Edy Natar Nasution mengatakan, pelepasan ekspor ini merupakan tanda bangkitnya perekonomian Riau. Pemerintah Provinsi Riau mendukung penuh yang dilakukan dunia usaha untuk meningkatkan investasi dan menggairahkan ekonomi daerah sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Diharapkan, dengan adanya pabrik rayon di Riau dapat meningkatkan produk domestik bruto Provinsi Riau sebesar 1,49 persen dari sektor nonmigas serta mendorong geliat industri kecil dan menengah di beberapa sektor usaha yang terlibat dalam kegiatan operasional pabrik. Hal ini dapat membawa efek berantai bagi pembangunan ekonomi berkelanjutan di Riau,” ungkap Edy.

COO APRIL Eduward Ginting menyampaikan, meskipun dunia saat ini sedang menghadapi banyak tekanan di situasi pandemi Covid-19, produksi dan pemasaran produk serat viscose rayon APR tetap menunjukkan kinerja positif. 

Hal ini tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak, terutama masyarakat, Pemerintah Kabupaten Pelalawan, Pemerintah Provinsi Riau, dan Pemerintah Pusat, salah satunya Kementerian Perdagangan RI.

“Kegiatan pelepasan kontainer ekspor viscose rayon ke pasar global dan pasar domestik merupakan pencapaian baru APR dalam upaya memperkuat industri tekstil nasional sekaligus mengurangi ketergantungan impor bahan baku tekstil negara lain,” ujar Eduward.

APR adalah produsen viscose rayon pertama yang terintegrasi secara penuh di Asia dari hutan taman industri terbarukan. Pabrik berkapasitas 240.000 ton yang berlokasi di Pangkalan Kerinci, Riau, ini menggunakan teknologi produksi terkini dalam menghasilkan rayon berkualitas tinggi untuk kebutuhan tekstil dan produk kebersihan pribadi.

Sejak diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada Februari 2020, APR menjadi fasilitas manufaktur viscose rayon terintegrasi dengan dissolving pulp yang berasal dari 100 persen serat terbarukan hutan tanaman industri (HTI) Asia Pacific Resources International Holdings Limited (APRIL).

APR juga sudah masuk ke pasar tekstil dunia dengan kriteria rayon viscose yang breathable, ringan, lembut dan 100 persen disertifikasi berbahan baku alami. Viscose rayon unggul dari bahan baku tekstil lainnya karena dapat terurai secara alami dan kembali menjadi kompos di tanah.

Produksi serat viscose rayon APR mencapai 300.000 ton per tahun dan telah diekspor ke 22 negara. Saat ini, APR juga tengah mempersiapkan pembangunan tahap dua dan menggandakan kapasitas produksinya menjadi 600.000 ton per tahun pada 2023 mendatang.

Editor : Jeanny Aipassa

Bagikan Artikel: