Soal Kemasan Polos Rokok Dkk, Ini Kata Kemenperin

Rully Ramli ยท Rabu, 09 Oktober 2019 - 21:42 WIB
Soal Kemasan Polos Rokok Dkk, Ini Kata Kemenperin

Kemasan rokok polos. (Foto: Yahoo News)

JAKARTA, iNews.id - Pelaku usaha, terutama industri hasil tembakau (IHT) dan industri makanan dan minuman (mamin) khawatir dengan tren kemasan polos untuk produk (plain packaging), termasuk rokok. Beberapa negara di dunia sudah memberlakukan aturan tersebut.

Kasubdit Industri Hasil Tembakau dan Bahan Penyegar Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Djati Ertanto Mogadishu menjamin pemerintah tidak akan menerapkan aturan kemasan polos dalam waktu dekat.

Menurut Djati, kontribusi IHT dan industri mamin terhadap perekonomian Indonesia sangat besar. Dengan demikian, aturan yang akan berdampak pada sektor industri tersebut harus dipikirkan secara matang.

"Kalau ada regulasi yang memberikan dampak signifkan, tidak akan luput dari assessment. Kalau (aturan) plain packaging masih jauh," ujarnya di Jakarta, Rabu (9/10/2019).

Berdasarkan data Kemenperin, kontribusi industri mamin terhadap produk domestik bruto (PDB) mencapai 36 persen sementara IHT menyumbang 6 persen PDB nasional.

Soal kemasan, Djati menilai, desain bungkus rokok sudah diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 109 tahun 2012 di mana produsen harus memasukkan komposisi peringatan gambar berbahaya minimal 40 persen. Aturan ini dinilainya sudah mencukupi.

Untuk kemasan polos, menurut Djati, dampaknya bakal sangat signifikan bagi industri. Dia enggan berspekulasi mengenai dampaknya dan memastikan bahwa kajian mendalam akan dilakukan jika aturan itu perlu diterapkan di Indonesia.

"Dampaknya tidak hanya ke sektor ekonomi, tapi juga ke sektor lain," kata dia.

Kemenperin mengaku sudah diajak beraudiensi Kementerian Kesehatan untuk merevisi PP 109/2012. Namun, Kemenperin menilai revisi aturan itu tidak perlu dilakukan karena IHT tengah menghadapi tantangan berupa kenaikan cukai rokok hingga 23 persen pada tahun depan.

"Mungkin bukan saat yang tepat kita mengubah PP 109, karena dampaknya bisa kemana-mana," ucapnya.


Editor : Rahmat Fiansyah