Tahan Gejolak Inflasi, The Fed Kembali Naikkan Suku Bunga 75 Basis Poin

Dinar Fitra Maghiszha · Kamis, 28 Juli 2022 - 06:57:00 WIB
Tahan Gejolak Inflasi, The Fed Kembali Naikkan Suku Bunga 75 Basis Poin
Kantor Bank Sentral Amerika Serikat atau The Federal Reserve (The Fed). (Foto: Reuters)

WASHINGTON, iNews.id - Bank Sentral Amerika Serikat atau The Federal Reserve (The Fed) kembali menaikkan suku bunga acuan sebesar 75 basis poin. Langkah tersebut dilakukan untuk menahan gejolak inflasi.  

Hal itu, diputuskan dalam pertemuan dewan kebijakan bank sentral Amerika Serikat (FOMC), pada Rabu (27/7/2022) waktu setempat atau Kamis (28/7/2022) dini hari WIB.

Sesuai prediksi, para pejabat The Fed memilih dengan suara bulat untuk menaikkan suku bunga acuan sebesar 75 basis poin. Hal itu, membuat patokan suku bunga The Fed berada di kisaran 2,25 persen - 2,5 persen.

Keputusan tersebut, juga menandai kenaikan suku bunga keempat Fed sejak Maret, dan merupakan laju pengetatan tercepat sejak 1981, dikutip dari Associated Press (AP), Kamis (28/7/2022).

Tingkat suku bunga AS saat ini menyamai siklus pengetatan di tahun 2016-2018, yang membawa suku bunga acuan ke wilayah yang dianggap The Fed netral, yakni tidak mendorong atau memperlambat ekonomi.

Sebelumnya sejumlah pengamat memproyeksikan The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 75 basis poin, melanjutkan kenaikan yang sama pada pertemuan Juni lalu.

Gubernur The Fed, Jerome Powell, menegaskan langkah ini diambil demi menahan gejolak inflasi, mengingat indeks harga konsumen AS mengalami lonjakan cukup signifikan pada periode terakhir sebesar 9,1 persen yoy, yang notabene tertinggi sejak 1981.

Dengan suku bunga pinjaman yang tinggi, maka hal itu akan membuat warga AS akan membayar lebih mahal atas cicilan rumah, pinjaman mobil ataupun kredit bisnis sejenis.

Pada gilirannya, dengan kondisi seperti itu, maka konsumen kemungkinan akan mengurangi aktivitas peminjaman dan urusan belanja barang, yang diharapkan dapat mendinginkan ekonomi dan memperlambat laju inflasi. Namun, hal tersebut dikhawatirkan dapat memukul pertumbuhan ekonomi AS dan membawanya masuk dalam jurang resesi.

Sejumlah analis sebelumnya meyakini tanda-tanda bahwa ekonomi Paman Sam bakal melambat dan bahkan mungkin menyusut pada paruh pertama tahun ini.

Seiring hal itu, kekhawatiran terhadap Fed pun semakin menguat bahwa mereka akan bertindak lebih agresif yang pada akhirnya dapat menyebabkan penurunan aktivitas ekonomi yang dapat menyebabkan adanya pemutusan hubungan kerja (PHK) dan meningkatnya pengangguran.

Sementara itu, lonjakan inflasi dan ketakutan akan resesi juga telah mengikis kepercayaan konsumen dan menimbulkan kecemasan publik terkait kondisi makro ekonomi. Hal tersebut juga mengirimkan sinyal waspada bagi negara-negara berkembang yang masih bergantung terhadap investasi asing yang menggunakan mata uang dolar.

Editor : Jeanny Aipassa

Bagikan Artikel:







Lokasi Tidak Terdeteksi

Aktifkan untuk mendapatkan berita di sekitar Anda