Waduh! Tarif Trump Bisa Bikin Nilai Ekspor Indonesia Turun Drastis
Tauhid menduga AS melihat perlunya penerapan tarif resiprokal, yang bukan hanya soal tarif itu sendiri, tetapi juga hambatan non-tarif yang dihitung sebagai biaya besar. Dia menyoroti beberapa komoditas seperti alkohol dan bahan kimia yang perlu ditinjau ulang.
Tauhid menyinggung perbedaan tarif yang diterapkan kedua negara pada beberapa produk. Misalnya, tarif impor pakaian dari AS ke Indonesia sebesar 12,7 persen, sementara tarif impor pakaian dari Indonesia ke AS hanya 1,7 persen.
Namun untuk ekspor produk lain, Indonesia dikenakan tarif 4,8 persen, sementara impor dari AS hanya 0,1 persen.
Tauhid menilai kebijakan ini merupakan bentuk proteksionisme AS terhadap defisit perdagangan dengan Indonesia yang mencakup produk makanan, karet, alas kaki, bahan kimia, kayu hingga CPO.
"Jadi untuk beberapa produk memang saling besar tarif itu berbeda, ini yang kemudian kita harus ulik lagi komponen tarif pada masing-masing produk," ungkap Tauhid.
Editor: Rizky Agustian