Patahkan Dominasi Dollar, China Siapkan Kontrak Pembelian Minyak Berbasis Yuan

Ranto Rajagukguk ยท Selasa, 24 Oktober 2017 - 14:47:00 WIB
Patahkan Dominasi Dollar, China Siapkan Kontrak Pembelian Minyak Berbasis Yuan
Ilustrasi (Foto: Reuters)

BEIJING - China berencana menyiapkan langkah besar dalam waktu dekat ini untuk menantang dominasi global dollar Amerika Serikat (AS).

Strategi baru ini adalah dengan memanfaatkan pasar energi di mana pemerintahan akan mengeluarkan kebijakan baru terkait patokan harga minyak mentah dalam beberapa bulan mendatang. Biasanya, kontrak pembelian minyak mentah menggunakan dollar AS yang saat ini memang mendominasi pasar global.

Nantinya kontrak tersebut akan menggunakan Yuan, mata uang China. Jika diadopsi secara meluas, maka akan sesuai harapan orang Tiongkok, yang menandai bahwa mata uangnya bisa menjadi paling kuat di dunia.

Sekadar informasi, China adalah importir minyak utama dunia. Karena itu, pemerintah China menganggap sebagai hal logis dengan menerapkan mata uangnya sendiri terhadap komoditas energi penting tersebut.

Selain itu, menjauhi dollar AS merupakan prioritas yang strategis bagi negara-negara seperti China dan Rusia. Keduanya memang tengah mengurangi kebergantungan mereka terhadap dollar AS.

Dengan begitu, akan membatasi eksposur mereka terhadap risiko mata uang AS dan politik rezim sanksi Amerika.

Rencananya, patokan harga minyak mentah lewat Yuan diadopsi layaknya kontrak berjangka emas di Shanghai. Namun diakui, hal itu membutuhkan waktu panjang dan akan berliku.

Co-Director Institute for Analysis of Global Security Gal Luft menuturkan, rencana tersebut kenyataannya belum sampai mengubah peta mata uang saat ini.  "Tapi ini adalah indikator, dan ini awal dari glasial. Saya menekankan kata glasial, penurunan dollar," ujar dia, mengutip CNBC, Selasa (24/10/2017).

Faktanya, pemerintah China kini menghadapi pasar minyak yang skeptis dan persepsi global bahwa komoditas itu diintervensi oleh banyak negara. Faktor-faktor tersebut akan menghambat China untuk membangun patokan harga minyak menyaingi yang sudah mapan seperti WTI atau Brent.

Diakui memang sulit melepaskan cengkraman pasar minyak terhadap dollar AS atau dikenal dengan petrodollar. Sudah empat dekade minyak mentah menggunakan mata uang dollar AS. Namun, berbagai hal yang sudah mengakar di Eropa, AS dan Timur Tengah akan menjadi tantangan besar lainnya.

"Banyak kontrak berjangka diluncurkan karena masuk akal dari sudut pandang pasar yang logis dan mereka mendapat banyak perhatian, tapi kemudian mereka mati karena kuncinya adalah likuiditas. Mengubah hal yang biasa itu sangat sulit," kata Jeff Brown, Presiden di FGE, seorang konsultan energi internasional.

Hambatan lain yang akan dihadapi China adalah mata uangnya itu sendiri. Yuan belum sepenuhnya dapat dikonversi, dan rentan terhadap intervensi. "Reservasi terbesar saya adalah peran pemerintah pusat China, intervensi negara yang potensial dan favoritisme terhadap perusahaan China," kata John Driscoll, direktur JTD Energy Services di Singapura dan seorang mantan pedagang minyak yang karirnya terbentang hampir 40 tahun.

"China mungkin konsumen energi dengan pertumbuhan tercepat dan paling hebat di dunia, namun pemerintah pusatnya memainkan peran dominan di sektor energi," ujar John.

Saat ini, pemerintah China cenderung bersandar pada perusahaan minyak milik negara untuk mengadopsi kontrak berbasis Yuan dalam upaya menghidupkan aktivitas dan menghasilkan likuiditas dari instrumen keuangan apa pun.

Editor : Ranto Rajagukguk