Dari Saham Gorengan hingga Dugaan Korupsi, Ini Fakta-Fakta Seputar Jiwasraya

Ilma De Sabrini ยท Jumat, 27 Desember 2019 - 13:50 WIB
Dari Saham Gorengan hingga Dugaan Korupsi, Ini Fakta-Fakta Seputar Jiwasraya

Jiwasraya. (Foto: Ist)

JAKARTA, iNews.id - PT Asuransi Jiwasraya (Persero) tersandung masalah. BUMN asuransi itu tak mampu membayar klaim polis nasabahnya yang jatuh tempo akhir tahun ini yang mencapai Rp12,4 triliun.

Menteri BUMN Erick Thohir mengatakan, kasus Jiwasraya ditangani melalui dua jalur. Pertama, jalur hukum oleh Kejaksaan Agung. Kedua, jalur korporasi oleh Kementerian BUMN, Kementerian Keuangan, OJK, dan lain-lain.

Kasus ini bahkan merembet ke dunia politik. Presiden Jokowi mengatakan, kasus gagal bayar Jiwasraya terjadi sejak 10 tahun lalu. Partai Demokrat sebagai ruling party sejak tahun 2004 menolak disalahkan. Berikut fakta-fakta seputar Jiwasraya:

1. Kas kosong

Ketidakmampuan Jiwasraya dalam membayar polis jatuh tempo disebabkan kekeringan likuiditas. Hal ini terlihat dari neraca keuangan perusahaan pada kuartal III-2019 di mana ekuitas jebol Rp24 triliun.

Kondisi tersebut disebabkan aset Jiwasraya hanya Rp25,68 triliun sementara kewajiban yang dimiliki mencapai Rp49,6 triliun. Jiwasraya butuh dana Rp32,89 triliun untuk memenuhi ketentuan risk-based capital (RBC) 120 persen.

2. Dana nasabah di saham gorengan

Fakta baru terkuak bahwa lebih dari separuh aset Jiwasraya berada di aset finansial berupa saham yang tidak likuid. Nilainya lebih dari Rp10 triliun.

Kuat dugaan dana pemegang polis diinvestasikan di saham-saham gorengan atau reksa dana yang dikelola manajer investasi yang menaruh dana di saham gorengan. Harga saham gorengan itu kini sedang turun tajam sehingga bakal dilego dengan target Rp5,6 triliun

3. Produk JS Saving Plan bermasalah

Penempatan dana nasabah di saham-saham gorengan itu merupakan portofolio produk JS Saving Plan. Pasalnya, nilai liabilitas produk itu mencapai Rp15,7 triliun dari total liabilitas perseroan Rp50,5 triliun.

Produk bancassurance yang bikin Jiwasraya babak belur ini menawarkan keuntungan 9-13 persen per tahun. Ketentuan kewajiban penempatan dana pada produk ini relatif fleksibel. Kini, klaim jatuh tempo pemegang polis JS Saving Plan senilai Rp12,4 triliun pada akhir 2019 tak bisa dibayar.

4. Ditolong holding BUMN asuransi

Pembentukan holding BUMN asuransi menjadi salah satu skema penyelematan Jiwasraya. Presiden Jokowi akan merestui pembentukan holding tersebut pada pekan ini.

Jiwasraya bakal disuntik oleh holding senilai Rp2 triliun setiap tahun hingga empat tahun ke depan. Selain itu, anak usaha Jiwasraya akan dijual dengan nilai Rp3 triliun.

5. Diduga Korupsi

Kasus hukum Jiwasraya kini ditangani oleh Kejagung. Nilai kerugian negara akibat kasus tersebut mencapai Rp13,7 triliun. Angka itu merupakan perkiraan awal.

Kejagung menilai, manajemen Jiwasraya berinvestasi pada 13 emiten yang sahamnya tidak aman dan berisiko tinggi. Dari penelusuran, 95 persen dana untuk saham ditaruh di emiten berkinerja buruk dan hanya 5 persen pada emiten berkinerja buruk.

6. Direksi lama dicegah ke luar negeri

Kejagung memutuskan untuk mencegah 10 orang terkait kasus Jiwasraya. Mereka yang dicegah berinisial HR, DH, HP, NZ, DW, GL, GR, HD, BT dan HS.

Kesepuluh orang itu belum diketahui apakah manajemen Jiwasraya lama atau ada pihak lain. Yang jelas, mereka semua berpotensi menjadi tersangka.

Editor : Rahmat Fiansyah