LPS: Penempatan Dana Bukan Untuk Selamatkan Bank Gagal

Michelle Natalia ยท Jumat, 24 Juli 2020 - 15:50 WIB
LPS: Penempatan Dana Bukan Untuk Selamatkan Bank Gagal

Ketua Dewan Komisioner LPS, Halim Alamsyah. (Foto: iNews.id/Isna Rifka Sri Rahayu)

JAKARTA, iNews.id - Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) memiliki wewenang baru menempatkan dana di bank-bank yang bermasalah. Penempatan itu bersifat sementara dan bukan untuk menyelamatkan bank gagal.

Ketua Dewan Komisioner LPS, Halim Alamsyah mengatakan, ketentuan tersebut secara teknis dituangkan dalam Peraturan LPS Nomor 3 tahun 2020 yang merupakan turunan dari Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 33 tahun 2020 tentang Pelaksanaan Kewenangan LPS Dalam Rangka Melaksanakan Langkah-langkah Penanganan Permasalahan Stabilitas Sistem Keuangan.

Halim mengatakan, LPS akan melakukan penempatan dana pada bank-bank yang berpotensi mengalami krisis likuiditas. Dia menegaskan penempatan dana itu bukan untuk menyelamatkan bank gagal.

"Ini penempatan dananya bersifat sementara, bukan untuk penyelamatan bank, dalam konteks mengatasi gangguan kestabilan sistem keuangan. Mohon jangan disalahartikan. Itupun penempatan dana selama-lamanya hanya enam bulan," ujarnya saat jumpa pers secara virtual, Jumat (24/7/2020).

Halim menegaskan, ketentuan tersebut hanya berlaku sangat terbatas yakni selama pandemi Covid-19. Hal itu diatur dalam Pasal 11 ayat 1 dari PP 33/2020. Penempatan dana sebagai bentuk mitigasi risiko agar tidak muncul bank gagal.

Dia menyebut, penempatan dana diberikan kepada bank yang berada dalam status BDPK (Bank Dalam Pengawasan Khusus) akibat masalah likuiditas. Sementara bank yang masuk BDPK karena adanya unsur fraud, tidak akan mendapatkan penempatan dana,

"Nanti ada analisis kelayakan dari OJK dan akan diserahkan ke LPS, yang nantinya rekomendasi ini akan menjadi dasar pertimbangan untuk menempatkan dana LPS atau tidak," ucapnya.

LPS, kata Halim, akan meminta jaminan aset dari pemegang saham pengendali atas dana yang ditempatkan. Jaminan bisa bermacam-macam meski biasanya berbentuk obligasi.

Editor : Rahmat Fiansyah