Amerika Resesi, Ekonomi Indonesia Diyakini Tak Akan Ikut Terjerembab

Kunthi Fahmar Sandy ยท Minggu, 02 Agustus 2020 - 20:25 WIB
Amerika Resesi, Ekonomi Indonesia Diyakini Tak Akan Ikut Terjerembab

Ekonom meyakini resesi di AS dan banyak negara lain tidak akan menambah buruk perekonomian Indonesia. (Foto: Sindonews)

JAKARTA, iNews.id - Amerika Serikat (AS) jatuh dalam jurang resesi dengan perekonomian terkontraksi 32,9 persen pada kuartal kedua 2020, menyusul pertumbuhan minus 5 persen pada kuartal pertama 2020. Kondisi ini menempatkan AS ekonomi terburuk sejak 1947. Bagaimana dengan Indonesia?

Direktur Riset CORE Indonesia Piter Abdullah mengemukakan sekarang semua negara tinggal menunggu waktu saja menyatakan secara resmi resesi. Proses resesi sendiri sudah berlangsung sejak awal tahun yang diakibatkan dari wabah Covid 19 dan semua terseret gelombang wabah yang sama.

"Memang negara-negara tertentu yang sangat bergantung kepada ekspor akan terseret lebih dalam karena selain terjadi wabah di domestik, ekspornya juga turun karena penurunan ekonomi global. Tapi Indonesia bukan negara seperti itu. Kita tidak bergantung Ekspor," ujar Piter saat dihubungi di Jakarta, Minggu (2/7/2020).

Menurutnya, resesi di AS dan banyak negara lain tidak akan menambah buruk perekonomian Indonesia. Dampak resesi di berbagai negara termasuk AS sudah dirasakan, di mana ekspor Indonesia sudah menurun dan ini tidak akan berdampak lebih besar.

Peter menyebutkan, perekonomian Indonesia sudah terkontraksi, khususnya karena wabah yang menyebabkan konsumsi dan investasi Indonesia menurun. "Kabar baiknya, meskipun kita dipastikan akan ikut mengalami resesi, tetapi kontraksi ekonomi yang kita alami diyakini tidak akan sedalam negara-negara maju," katanya.

Dia menekankan, sekali lagi karakteristik negara Indonesia yang lebih bergantung pada konsumsi ketimbang ekspor menyebabkan kontraksi ekonomi menjadi lebih 'mild' karena konsumsi walaupun mengalami kontraksi tidak akan sampai terlalu dalam. "Masyarakat bagaimanapun tetap akan melakukan konsumsi, terutama lagi dengan adanya berbagai bantuan dari pemerintah," ujarnya.

Piter menuturkan, kondisi perekonomian global khususnya AS yang terpuruk hingga masuk ke jurang resesi mengundang respons kebijakan fiskal dan moneter yang longgar. Kebijakan FED misalnya adalah mempertahankan suku bunga acuan 0 - 0,25 persen, dengan komitmen melanjutkan pembelian surat utang pemerintah dan korporasi (quantitative easing/QE) selama diperlukan guna membangkitkan perekonomian AS.

"Kebijakan pelonggaran likuiditas ini memunculkan sentimen positif di pasar keuangan negara berkembang, serta membuka peluang terus berlanjutnya aliran modal masuk yang akan memperkuat nilai tukar, termasuk rupiah," katanya.

Sentimen positif didukung juga berita positif terkait perkembangan penemuan vaksin Covid-19. "Saya memperkirakan satu minggu ke depan rupiah akan cenderung menguat," kata Piter.

Editor : Dani Dahwilani