Berbentuk Kurva U, Pemulihan Ekonomi ASEAN Diprediksi Lambat
JAKARTA, iNews.id - Ketidakpastian ekonomi global akibat pandemi Covid-19 memberikan tekanan hebat kepada negara-negara di dunia, khususnya negara Asia Tenggara (ASEAN). Contohnya Singapura yang mengalami resesi dengan pertumbuhan ekonomi minus 41,2 persen pada kuartal II 2020, dan Filipina yang bernasib sama terkontraksi 16,5 persen.
Meskipun beberapa negara ASEAN terlihat mampu mengatasi wabah virus corona, namun ketidakpastian pasar akan membatasi tingkat pemulihan ekonomi di kawasan tersebut. Kepala Ekonom Nomura untuk wilayah ASEAN Euben Paracuelles menjelaskan, hasil analisisnya yang menunjukkan model pertumbuhan ekonomi ASEAN akan berbentuk kurva U, artinya pemulihan ekonomi akan berjalan lambat.
“Secara umum untuk kawasan ini pemulihannya bentuk U, berarti ekonomi menghabiskan waktu lebih lama di dasar resesi, sebelum akhirnya secara bertahap naik keatas dan pulih, karena masih penuh ketidakpastian,” ujar Paracuelles dikutip dari CNBC pada Sabtu (8/8/2020).
Dalam studinya, dia mengamati empat negara, yakni Thailand, Singapura, Filipina dan Indonesia. Dia menjelaskan, meskipun Thailand tampaknya berhasil mengendalikan wabah corona, ekonominya masih akan mengalami hambatan besar akibat anjloknya sektor pariwisata. Pukulan di bisnis pariwisata kemungkinan akan berlanjut sampai kebijakan lockdown dilonggarkan atau sampai vaksin ditemukan.
Menko Airlangga Sebut Skenario Pemulihan Ekonomi Berlanjut hingga 2021
Sebuah laporan yang dirilis bulan lalu oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang perdagangan dan pembangunan menyebut, Thailand sebagai salah satu negara yang menderita pukulan ekonomi terbesar akibat runtuhnya pariwisata. Dalam skenario paling optimis, Thailand akan kehilangan 9 persen dari produk domestik bruto (PDB) negaranya atau sekitar 47,7 miliar dolar AS (Rp701,9 triliun).