Dahlan Iskan Bicara Peran Benny Tjokro di Skandal Jiwasraya

Alza Azoza ยท Kamis, 16 Januari 2020 - 12:05 WIB
Dahlan Iskan Bicara Peran Benny Tjokro di Skandal Jiwasraya

Mantan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan. (Foto: Okezone)

JAKARTA, iNews.id - Mantan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan buka suara mengenai keterlibatan Direktur Utama Hanson International Tbk Benny Tjokrosaputro (Bentjok) dalam skandal PT Asuransi Jiwasraya (Persero). Sosok Bentjok dinilai tadinya akan lolos dari masalah hukum.

Dahlan menilai, Bentjok adalah sosok yang cukup pintar dalam masalah hukum. Dia bisa menggunakan hukum-hukum dagang yang tersedia, dan membuatnya merasa benar atas segala tindakan yang dilakukan.

"Bentjok adalah tipe orang yang berpikir panjang. Segala langkahnya sudah dihitung. Pun untuk masa yang jauh. Termasuk sudah memperhitungkan akibat hukumnya. Bahwa sekarang ia jadi tersangka mungkin salahnya pepatah sepandai-pandai tupai melompat akhirnya ada tangga yang jatuh," kata Dahlan dalam laman Disway.id, Kamis (16/1/2020).

Lebih lanjut Dahlan menilai, Bentjok memang memakai uang Jiwasraya hingga ratusan miliar rupiah. Bentjok melalui perusahaannya, Hanson International menerbitkan instrumen medium term note (MTN) dengan bunga tinggi yang kemudian diiming-imingi ke manajemen Jiwasraya.

"Bahwa ia pernah memakai uang Jiwasraya ratusan miliar ia akui. Tapi, katanya, sudah lunas. Misalnya waktu mengeluarkan MTN, surat utang jangka menengah. Medium term note. Itulah cara Bentjok pinjam uang secara legal. Kesalahan Jiwasraya: kok mau meminjami," ujar Dahlan.

Selain itu, Dahlan memaparkan, masih ada transaksi lain antara Bentjok dengan Jiwasraya di pasar modal, yaitu pembelian saham Hanson International. Saham perusahaan milik Bentjok ini dibeli Jiwasraya ketika harganya Rp1.300 per lembar dengan nilai Rp760 miliar.

Saat itu, banyak pihak menilai harga tersebut terlalu mahal. Namun, setelah pembelian tersebut saham Hanson International terus menanjak.

"Banyak yang menilai itu kemahalan. Tapi itulah harga resmi di pasar modal. Setahun kemudian harga saham itu naik drastis. Menjadi Rp1.865/lembar. Saat inilah mestinya Jiwasraya jual saham. Bisa untung lebih Rp100 miliar. 

Namun, Dahlan menyebut hal tersebut tidak dilakukan Jiwasraya. Pasalnya, manajemen saat itu memprediksi saham Hanson akan kembali naik.

Namun yang terjadi sebaliknya. Saham perusahaan milik Bentjok ini anjlok hingga ke Rp50 per lembar saham. 

" Mungkin menunggu harga naik lagi. Padahal setelah itu saham Henson terjun bebas. Ke dasar jurang yang paling dalam: tinggal Rp50/lembar. Tidak ada lagi harga saham yang lebih rendah dari itu. Itulah saham asfalasafilin. Hitung sendiri berapa ratus miliar uang Jiwasraya hilang," ujarnya.

Editor : Ranto Rajagukguk