Likuiditas Mengetat, Perbankan Disarankan Naikkan Suku Bunga Simpanan

Isna Rifka Sri Rahayu ยท Selasa, 30 Oktober 2018 - 21:25 WIB
Likuiditas Mengetat, Perbankan Disarankan Naikkan Suku Bunga Simpanan

Ilustrasi. (Foto: Okezone)

JAKARTA, iNews.id - Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatat pertumbuhan Loan to Deposit Ratio (LDR) perbankan saat ini mencapai 94 persen. Angka ini telah melewati batas aman yang ditentukan Bank Indonesia sebesar 92 persen.

Kepala Eksekutif LPS Fauzi Ichsan mengatakan, perbankan memiliki pilihan untuk menurunkan LDR dengan menahan pertumbuhan kredit atau menaikkan suku bunga simpanan. Pasalnya, kenaikan LDR dipicu oleh pertumbuhan kredit yang dua kali lipat dari pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK).

"Sekarang kalau suatu bank LDR-nya tinggi maka pilihannya mengerem pertumbuhan kredit dan menaikkan suku bunga simpanan. Untuk memastikan LDR-nya di bawah 92 persen," ujarnya di Equity Tower, Jakarta, Selasa (30/10/2018).

Menurut dia, dengan melemahnya pasar saham dan obligasi terutama di emerging market membuat imbal hasilnya (yield) menjadi naik. Hal ini tentu menjadi pilihan yang menarik bagi investor untuk menaruh dananya.

Oleh karenanya, perbankan harus menaikkan suku bunga simpanannya agar masyarakat tertarik mendepositkan dananya. Hal ini juga dapat mengerek pertumbuhan DPK agar dapat menyeimbangkan pertumbuhan kredit sehingga LDR dapat turun ke level aman.

"Mereka memiliki opsi antara deposito di perbankan atau obligasi, karena yield obligasi naik maka perbankan juga harus menaikkan subung simpanannya. Selain untuk memastikan LDR-nya masuk ke prudential limit," ucapnya.

Kendati demikian, ia yakin likuiditas perbankan akan kembali normal ke depannya saat investor kembali ke emerging market. Hal ini akan membuat pasar saham dan obligasi kembali menguat sehingga menurunkan yield obligasinya.

"Otomatis bagi perbankan juga akan lebih mudah untuk menggalang dana simpanan. Karena kan pesaingnya yaitu pasar obligasi yieldnya turun. Ini yang diharapkan," kata dia.

Namun, keadaan dapat kembali normal jika ketidakpastian global mereda. Dengan masih memanasnya tensi perang dagang antara AS dan China ditambah isu brexit, kenaikan harga minyak internasional, hingga risiko krisis fiskal Italia sehingga tidak dapat dipastikan kapan akan berakhir.

"Jadi sangat bergantung pada faktor global, ini sangat bergantung pada beberapa faktor. Tapi bobot yang terbesar di mata pelaku pasar ialah perang dagang," tuturnya.

Editor : Ranto Rajagukguk