Get iNews App with new looks!
inews
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Inovasi Lokal Melesat, Paten Revolusi Industri 4.0 Naik Hampir 150 Persen dalam Lima Tahun
Advertisement . Scroll to see content

Pemanfaatan Teknologi di Era Revolusi Industri 4.0, Ini Penjelasannya

Minggu, 20 Januari 2019 - 14:01:00 WIB
Pemanfaatan Teknologi di Era Revolusi Industri 4.0, Ini Penjelasannya
Ilustrasi. (Istimewa)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Revolusi industri 4.0 tengah hangat dibicarakan akhir-akhir ini. Pasalnya, industri dapat berubah dengan drastis hanya dengan teknologi.

Dengan adanya teknologi seperti kecerdasan buatan, mesin otomatis, dan internet dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari bisa mengubah cara individu, perusahaan, dan pemerintahan beroperasi sehingga mencetuskan revolusi industri 4.0.

Dikutip dari CNBC, Kepala Kebijakan Teknologi dan Kemitraan di WEF Zvika Krieger mengatakan, penemuan teknologi yang spesifik dapat mengubah masyarakat secara fundamental. Hal ini terjadi pada revolusi industri yang berlangsung sebelumnya.

Revolusi industri pertama dimulai di Inggris tahun 1760 saat penemuan teknologi seperti mesin uap. Mesin uap ini memunculkan proses manufaktur baru yang mengarah pada penciptaan pabrik.

Revolusi industri kedua terjadi satu abad kemudian yang ditandai oleh produksi besar-besaran di industi baru seperti baja, minyak, dan lstrik. Kemudian mengikuti kemunculan bola lampu, telepon, dan mesin pembakaran internal yang menjadi kunci industri baru.

Revolusi industri ketiga dimulai pada 1960-an yang disebut dengan revolusi digital. Pada era ini, penemuan semi konduktor, komputer pribadi, dan intenet marak terjadi di era ini.

Revolusi industri 4.0 hampir sama dengan revolusi industri ketiga karena menggunakan teknologi digital. Namun, saat ini kesenjangan antara dunia digital, fisik, dan biologis menyusut begitu pun dengan perubahan teknologi yang lebih cepat dari sebelumnya.

Pada revolusi industri 4.0 ini, mulai dari industri ritel hingga transportasi dan perbankan berlomba memasukkan teknologi baru ke dalam proses operasional perusahaan. Pasalnya, perusahaan bisa kalah saing jika kalah cepat dan kalah canggih teknoginya.

"Ada keinginan mutlak untuk hal-hal konkret yang bisa dilakukan perusahaan," kata Krieger.

Kendati demikian, studi menunjukkan teknologi seperti kecerdasan buatan akan menghilangkan beberapa pekerjaan, sekaligus menciptakan permintaan akan pekerjaan dan keterampilan baru. Beberapa ahli memperingatkan pekerja berketerampilan tinggi dihargai dengan upah tinggi, dan pekerja lainnya tertinggal.

Editor: Ranto Rajagukguk

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut