Pemberian Insentif Plastik Ramah Lingkungan, Inaplas Sebut Sudah Tak Relevan

Isna Rifka Sri Rahayu ยท Minggu, 07 Juli 2019 - 21:04 WIB
Pemberian Insentif Plastik Ramah Lingkungan, Inaplas Sebut Sudah Tak Relevan

Pemberian insentif cukai plastik untuk industri yang menggunakan bahan produksi ramah lingkungan sudah tidak relevan. (Foto: Okezone)

JAKARTA, iNews.id - Asosiasi Industri Olefin Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas) menilai pemberian insentif untuk industri yang menggunakan bahan produksi ramah lingkungan sudah tidak relevan. Insentif itu rencananya digulirkan guna meminimalkan tekanan usaha industri plastik setelah pemerintah menerapkan cukai plastik.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas) Fajar Budiono mengatakan, di Uni Eropa dan Thailand sejak Januari lalu telah melarang penggunaan kantong plastik yang bisa terurai cepat, atau oxodegradable.

"Update saat ini kriteria ramah lingkungan yang dimaksud dalam usulan cukai plastik sudah tidak sesuai lagi. Saat ini plastik ramah lingkungan yang menggunakan oxodegradable sudah dilarang," ujarnya kepada iNews.id, Minggu (7/7/2019).

Pemerintah berencana mengenakan tarif terendah sebesar nol persen dari harganya untuk plastik oxodegradable, yang biasanya sudah bisa terurai dalam waktu dua hingga tiga tahun. Bahan jenis ini dinilai lebih tidak berbahaya dibanding bahan kantong plastik biasa yang memerlukan waktu ratusan tahun untuk bisa terurai.

"Dalam usulan cukai plastik adalah dikasih insentif padahal produk tersebut susah/tidak bisa direcycle dan kalau hancur di alam akan menimbulkan dampak lingkungan baru," ucapnya.

Menurutnya, jika plastik tersebut diproduksi dan dipakai untuk komersil maka akan tetap mengancam biota air. Apalagi penggunaan plastik jenis ini perlu di-manage dengan baik.

"Manajemen sampah kita sudah beres? Jika dibuang sembarangan sebelum terurai akan menjadi pencemar air," kata dia.

Selain itu, plastik oxodegradable harganya cukup mahal dibandingkan plastik biasa. Oleh karenanya, untuk kebutuhan komersil tetap tidak bisa menggantikan plastik konvensional.

"Di USA dan Eropa juga sudah ditinggalkan kecuali untuk segmen pasar very high," tutur dia.

Editor : Ranto Rajagukguk