Perombakan Direksi Pertamina Lancarkan Kebijakan Populis Pemerintah
Selain itu, ia yakin bahwa ada kepentingan mafia migas di samping kepentingan politis yang populis dari pemerintah. Bahkan, ia mengatakan pemerintah seperti ditunggangi oleh para mafia tersebut karena kebijakan yang diambil seakan memberikan karpet merah bagi mafia.
"Silakan anda (mafia) jual Premium sebanyak mungkin, apalagi ini sampai 2019 dijamin tidak akan naik. Maka impor Premium itu akan bertambah terus, dan ini kesempatan bagi mafia untuk membeli lebih banyak sehingga rentenya jadi lebih besar," ujar Marwan.
Sebagai informasi, saat ini Indonesia mengimpor 50 persen dari total kebutuhan BBM yang 1,6 juta barel per hari. Oleh karena itu, Pertamina membangun empat proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) untuk modifikasi kilang-kilang yang sudah ada dan dua proyek Grass Root Refinery (GRR) alias pembangunan kilang baru.
Upaya ini dilakukan supaya dapat meningkatkan kapasitas kilang sehingga ketergantungan akan impor BBM tidak semakin besar dan membahayakan kedaulatan energi nasional. Dengan pembangunan kilang baru dan upgrade kilang exsisting, Pertamina menargetkan produksi BBM dalam negeri mencapai 2,5 juta barel per hari pada 2030.
"Premium ini barang yang tidak punya rujukan diimpor terus sehingga menjadi sumber rente bagi mafia-mafia itu. Kita ingatkan apakah pemerintah sekarang sadar ada kepentingan mafia yang menumpangi kebijakan populis tadi atau malah pemerintah jadi bagian mafia itu sendiri? Kita tidak tahu," katanya.
Editor: Ranto Rajagukguk