Proyeksi Ekonomi China Dipangkas karena Krisis Properti dan Wabah Covid

Dinar Fitra Maghiszha ยท Senin, 29 Agustus 2022 - 08:08:00 WIB
Proyeksi Ekonomi China Dipangkas karena Krisis Properti dan Wabah Covid
Proyeksi ekonomi China dipangkas karena krisis properti dan wabah Covid. Foto: Reuters

BEIJING, iNews.id - Ekonomi menjadi lebih pesimistis tentang ekonomi China. Mereka pun memangkas proyeksi pertumbuhan negara itu karena melihat gejolak pasar properti dan wabah Covid-19 terus berlanjut.

Menurut survei ekonom, ekonomi China akan tumbuh hanya 3,5 persen tahun ini dibanding proyeksi sebelumnya sebesar 3,9 persen. Proyeksi pertumbuhan untuk tiga kuartal pertama tahun depan juga dipangkas sebesar 0,1 persen menjadi 0,4 persen, meski median sepanjang 2023 tetap tidak berubah pada 5,2 persen.

Pemangkasan proyeksi pertumbuhan ekonomi ini menunjukkan para ekonom tidak yakin langkah-langkah stimulus China baru-baru ini dengan mengalokasikan dana sebesar 1 triliun yuan untuk proyek infratsruktur dan menurunkan suku bunga dapat membendung perlambatan. 

Ekonom internasional di Wells Fargo & Co., Brendan McKenna mengatakan, ada risiko penurunan pada proyeksi pertumbuhan di tengah sektor properti yang masih terpukul dan pembaruan pembatasan terkait Covid. Skenario dasarnya adalah ekonomi akan tumbuh lebih dari 3 persen tahun ini, tetapi melihat risiko pertumbuhan bakal melambat di bawah level itu jika aktivitas ekonomi melambat lebih lanjut.

Sentimen bisnis dan konsumen mendapat pukulan serius tahun ini karena wabah virus corona mendorong kota-kota besar seperti Shanghai membatasi aktivitas dan menutup bisnis untuk waktu yang lama. Ditambah dengan krisis properti yang semakin dalam tahun ini karena pembeli rumah mulai memboikot pembayaran hipotek atas rumah yang belum dibangun. Baru-baru ini, rekor suhu dan kekeringan telah menyebabkan pemadaman listrik dan beberapa penutupan pabrik.

Pemerintah pada awalnya menetapkan target pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) sekitar 5,5 persen tahun ini. Karena pertumbuhan melambat tajam sepanjang tahun dan wabah Covid terus menyebar, para pejabat senior mengabaikan target tersebut. Beijing tidak pernah melewatkan target PDB-nya sebanyak itu. Pada 2020, selama gelombang pertama pandemi, tidak ada yang dihentikan.

Di samping tantangan saat ini, Kepala Ekonom di Greater China di Australia & New Zealand Banking Group Ltd, Raymond Yeung mengatakan, risiko yang mendasari ekonomi, seperti demografi akan menjaga pertumbuhan di bawah 5 persen untuk beberapa tahun ke depan.

"Pandangan inti kami tetap bahwa ekonomi yang menua akan terus mendapatkan momentum selama tiga tahun ke depan. Potensi pertumbuhan akan terus melambat mengingat kurangnya peningkatan produktivitas. Kami memproyeksikan pertumbuhan PDB sebesar 4,2 persen pada 2023 dan 4 persen pada 2024," kata dia, deikutip dari Bloomberg, Senin (29/8/2022).

Sementara itu, iInflasi setahun penuh diperkirakan akan tetap tidak berubah pada 2,3 persen di 2022 dan 2023. Sedangkan pertumbuhan harga produsen untuk tahun depan kemungkinan akan moderat menjadi 1,4 persen dari 5,5 persen pada tahun ini. Investasi tetap diperkirakan meningkat sebesar 6,1 persen pada kuartal III, dibandingkan sebelumnya 6,9 persen dan perkiraan penjualan ritel untuk kuartal ini diturunkan menjadi 3,5 persen dari 4 persen.

Pertumbuhan ekspor kemungkinan akan tetap kuat, dengan para ekonom menaikkan perkiraan untuk kuartal III menjadi 9,5 persen dari 7,9 persen dan untuk setahun penuh dari 7,5 persen menjadi 8,7 persen. Sedangkan proyeksi impor dipangkas menjadi 4 persen untuk kuartal III dan IV tahun ini.

Editor : Jujuk Ernawati

Bagikan Artikel:







Lokasi Tidak Terdeteksi

Aktifkan untuk mendapatkan berita di sekitar Anda