Raja Salman Tekankan Pentingnya Ekonomi Hijau usai Pemulihan Pandemi Covid-19

Michelle Natalia ยท Senin, 23 November 2020 - 00:22 WIB
Raja Salman Tekankan Pentingnya Ekonomi Hijau usai Pemulihan Pandemi Covid-19

Raja Salman Tekankan Pentingnya Ekonomi Hijau usai Pemulihan Pandemi Covid-19. (Foto: Michelle Natalia))

RIYADH, iNews.id - Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz Al-Saud mengatakan, saat dunia pulih dari pandemi Covid-19 semua negara harus bisa menciptakan kondisi kondusif dari ekonomi yang kuat, inklusif, seimbang, serta berkelanjutan. Langkah tersebut perlu dilakukan bersama.

"Dengan cara-cara yang memungkinkan bagi manusia, lalu melindungi planet ini, dan membentuk batas baru untuk memanfaatkan peluang abad ke-21 bagi semua," ujar Salman dalam KTT G20 Riyadh Summit 2020 di Riyadh, Minggu (22/11/2020) malam. 

Menjaga bumi, lanjut dia, sangat penting. Peningkatan emisi akibat pertumbuhan ekonomi dan populasi, semua negara harus merintis pendekatan berkelanjutan, pragmatis, dan hemat biaya untuk mencapai target iklim yang ambisius.

"Dengan semangat ini, G20 di bawah kepemimpinan Saudi telah mempromosikan Ekonomi Karbon Sirkular (CCE) yang memungkinkan pengelolaan emisi secara holistik untuk mengurangi tantangan dampak iklim dan memajukan sistem energi lebih bersih dan berkelanjutan, serta memajukan pasar energi dan akses energi yang stabil dan aman," kata Salman.

Melalui inisiatif ini, negara-negara akan dapat mengadopsi dan mempromosikan teknologi yang sesuai dengan jalur transisi mereka melalui 4R Ekonomi Karbon Sirkular (Reduce, Reuse, Recycle, Remove). 4R terdiri dari pendekatan holistik, terintegrasi, dan pragmatis yang menghargai semua opsi untuk mengelola emisi di semua sektor.

Kerajaan Saudi secara resmi akan meluncurkan Program Nasional Ekonomi Karbon Sirkuler yang berdedikasi mengkonsolidasikan dan mempercepat momentum menuju keberlanjutan secara holistik.  

"Kami meminta negara lain untuk bekerja bersama kami untuk membantu mencapai tujuan program ini, yakni mengatasi perubahan iklim sambil terus menciptakan pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan umat manusia," tambahnya.

Pada 2012, Arab Saudi telah meluncurkan Program Efisiensi Energi Saudi, sebuah landasan pengurangan emisi dalam kerangka CCE.

"Di Kerajaan, kami memiliki banyak inisiatif yang menangkap karbon dan mengubahnya menjadi bahan baku yang berharga. Ini termasuk pabrik pemurnian CO2 terbesar di dunia yang dibangun Saudi Basic Industries Corporation (SABIC) dengan kapasitas 500.000 ton per tahun dan rencana pemulihan minyak Saudi Aramco yang ditingkatkan dengan emisi CO2 800.000 ton per tahun," kata Salman.


Demikian juga, di NEOM, Arab Saudi sedang mengembangkan pabrik hidrogen hijau terbesar.


Menyadari peran penting sekuestrasi karbon berbasis alam, Kerajaan Saudi telah mendukung tujuan ambisius untuk melestarikan, memulihkan, dan mengelola 1 miliar hektar lahan terdegradasi secara berkelanjutan pada tahun 2040.

"Selain itu, kami memiliki rencana besar untuk energi terbarukan, termasuk angin dan matahari yang akan menghasilkan 50% listrik untuk Saudi pada tahun 2030," tukas Salman. 

Editor : Dani Dahwilani