JAKARTA, iNews.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah pada akhir perdagangan Senin (8/6/2026). Angka ini menurun 151 poin atau sekitar 0,84 persen ke level Rp18.187 per dolar AS.
Analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan salah satu sentimen datang dari tensi geopolitik yang kembali memanas pasca serangan Israel yang kembali di Lebanon sehari sebelumnya, tetapi juga semakin menguat setelah terdengar suara ledakan di Iran.
Industri Baja Global Tertekan Lonjakan Harga Energi dan Banjir Produk China
"Suara ledakan terdengar di Teheran, Tabriz, dan Isfahan, menurut laporan media lokal pada Senin pagi, yang mengikis harapan akan segera berakhirnya perang yang lebih luas dan dimulainya kembali aliran minyak mentah melalui Selat Hormuz," tulis Ibrahim dalam risetnya.
Ibrahim pun memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp18.180-Rp18.230 per dolar AS.
Bukan Hanya Rupiah, Won Korea Tersungkur Hadapi Dolar AS: Terburuk sejak 17 Tahun
Selain itu, kata Ibrahim, ekonomi AS pada bulan Mei menambahkan 172 ribu pekerjaan, jauh di atas ekspektasi 85 ribu. Sementara itu, angka penggajian bulan April direvisi lebih tinggi menjadi 179 ribu dari 115 ribu, sementara tingkat pengangguran tetap stabil di 4,3 persen.