Sri Mulyani Beberkan Sejumlah Ancaman Krisis bagi Pemulihan Ekonomi Indonesia

Michelle Natalia ยท Jumat, 20 Mei 2022 - 13:27:00 WIB
Sri Mulyani Beberkan Sejumlah Ancaman Krisis bagi Pemulihan Ekonomi Indonesia
Sri Mulyani menyampaikan sejumlah tantangan dan risiko baru yang muncul dari faktor global, mulai dari lonjakan inflasi global hingga kebijakan moneter global. (Foto: Antara)

JAKARTA, iNews.id - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menyampaikan sejumlah tantangan dan risiko baru yang muncul dari faktor global baik dari sisi geopolitik, ekonomi dan keuangan yang sangat kompleks dan dinamis. Adapun IMF memproyeksikan melambatnya pertumbuhan ekonomi global 2022 pada tingkat 3,6 persen, turun signifikan 0,8 poin dari proyeksi di Januari 2022. 

Sri Mulyani menuturkan, selain pandemi Covid-19 yang belum sepenuhnya usai, ada dua tantangan besar lain yang harus diwaspadai dan diantisipasi, yaitu lonjakan inflasi global, terutama akibat perang Rusia-Ukraina dan percepatan pengetatan kebijakan moneter global, khususnya di Amerika Serikat (AS).

"Perang Rusia-Ukraina juga telah menyebabkan disrupsi sisi produksi atau supply yang sangat besar, sehingga mendorong kenaikan ekstrem tinggi harga-harga komoditas global," ujar Sri Mulyani dalam Rapat Paripurna DPR RI di Jakarta, Jumat (20/5/2022). 

Selain itu, harga minyak mentah yang berada pada kisaran 100 dolar AS per barel turut jadi perhatian. Sejak awal tahun (year to date), harga gas alam naik 127,0 persen, batu bara naik 137,3 persen, CPO naik 26,1 persen, gandum naik 56,5 persen, dan jagung naik 34,3 persen. Secara indeks harga pangan dunia telah mengalami kenaikan 145,0 persen dibanding situasi awal 2020.

"Tingkat inflasi di AS yang sangat tinggi yaitu 8,4 persen, tertinggi dalam 40 tahun terakhir, menjadi ancaman nyata bagi pemulihan ekonomi AS dan bahkan ancaman dunia. Bank Sentral AS The Fed, akan melakukan percepatan pengetatan moneter. Saat ini, kenaikan suku bunga acuan diperkirakan dapat terjadi hingga tujuh kali di tahun 2022 dan berpotensi diikuti dengan kontraksi balance sheet yang menyebabkan lebih ketatnya kondisi likuiditas global," kata dia.

Sementara itu, sejak awal 2021 sampai dengan Maret 2022, sejumlah negara berkembang G20 seperti Brazil, Meksiko, dan Afrika Selatan telah menaikkan suku bunga acuannya secara sangat signifikan. 

Editor : Aditya Pratama

Halaman : 1 2

Bagikan Artikel: