Presiden Jokowi Sambut Baik Usulan Penyelamatan Industri Film Nasional 

Siska Permata Sari · Kamis, 11 Maret 2021 - 08:07:00 WIB
Presiden Jokowi Sambut Baik Usulan Penyelamatan Industri Film Nasional 
Presiden Jokowi menyambut baik permintaan menyelamatkan industri film dari hulu sampai hilir yang terdampak besar pandemi Covid-19. (Foto: Antara) 

Industri Film Sambut Baik 

Menanggapi langkah cepat pemerintah ini, pelaku industri film menyambut baik. Mereka berharap industri film kembali bangkit dan berkontisbusi bagi negara. 

"Segenap pekerja film berterima kasih atas respons cepat Bapak Presiden, Menparekraf, dan jajaran Kabinet Indonesia Maju. Semoga setiap langkah konkret koordinasi pemerintah pusat, daerah, dan pelaku industri akan mengembalikan film Indonesia kembali berjaya di bioskop dan menempati hati penonton tercintanya. Bagi kami film Indonesia adalah bakti kami untuk negeri dan kami siap bekerja sama serta menyiapkan langkah konkret dan strategi yang matang bersama pemerintah," ujar Chand Parwez, ketua Badan Perfilman Indonesia dilansir Kamis (11/3/2021). 

Industri perfilman Indonesia sebelum pandemi menduduki peringkat sepuluh dunia sebagai pasar film terbesar di dunia dengan nilai sebesar 500 juta dolar AS di akhir tahun 2019, menderita penurunan sebesar 97 persen di kala pandemi sepanjang tahun 2020. Sejak dibukanya Daftar Negatif Investasi di bidang perfilman pada 2016, perfilman Indonesia memasuki era baru dengan jumlah penonton yang terus meningkat dari tahun ke tahun, dengan pertumbuhan sebesar 20 persen per tahun selama 4 tahun terakhir sebelum pandemi. 

Industri Perfilman Indonesia adalah industri yang menopang perekonomian Indonesia secara signifikan dengan lebih dari 50.000 tenaga kerja di subsektor film, animasi, video pada 2019, dan lebih dari 2.500 jumlah usaha. Kontribusi industri film Indonesia ke GDP sebesar Rp15 triliun pada 2019. 

Bioskop yang berkontribusi atas 90 persen sumber pendapatan distribusi film Indonesia sejak Maret 2020 telah ditutup sementara dan hingga saat ini masih terdapat lebih dari 50 persen lokasi bioskop di Indonesia yang belum diizinkan beroperasi kembali. Ini menimbulkan stigma negatif di mata masyarakat untuk kembali menonton di bioskop saat sudah diberlakukan pelonggaran atas pembatasan tempat-tempat umum, seperti restoran dan tempat rekreasi lainnya. 

Berbagai studi internasional menunjukkan sampai saat ini bioskop dianggap relatif aman untuk dikunjungi karena para pelaku usaha bioskop menjalankan protokol kesehatan. 

Jade Flinn, anggota fakultas dari John Hopkins Medicine menyatakan, “Semua orang menghadap arah yang sama, hal tesebut membantu mengurangi penyebaran virus COVID-19”. 

Pernyataan serupa juga dikeluarkan oleh Profesor Budi Haryanto, Ketua Satgas Pengendalian Covid-19 dari Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI). “Sebenarnya risiko penyebaran dalam bioskop lebih kecil kalau dibandingkan dengan restoran. Kita tahu, sampai sekarang tidak banyak yang menunjukkan terjadinya kluster baru dari restoran." 

Di samping itu, sistem sirkulasi dan ventilasi udara di bioskop telah didesain sedemikian rupa untuk tetap memasukkan udara segar ke dalam ruangan bioskop. Terlebih, bioskop telah dilengkapi sistem sirkulasi canggih HEPA filter seperti di pesawat udara dan sebagian bioskop bahkan dilengkapi dengan sistem disinfeksi UV-C light untuk semakin membersihkan udara di lingkungan bioskop. 

Dampak pandemi bagi pekerja film juga sangat besar. Pada 2019 terdapat 129 judul film nasional yang dirilis di bioskop dengan total penonton film nasional sebesar 52 juta orang. Ini berarti satu judul film ditonton sekitar 400 ribu penonton. Dibandingkan dengan kondisi selama Pandemi, data per akhir Februari 2021 menunjukkan terdapat sembilan judul film nasional yang dirilis di bioskop dengan total penonton hanya sekitar 400 ribu orang. 

Kerugian penerimaan pajak dari penonton bioskop saja mencapai Rp1,5 triliun dan pendapatan tidak langsung bioskop Rp1,2 triliun. Adanya platform distribusi secara streaming pun belum dapat menopang industri dan nilai pembelian film yang belum dapat menutup biaya produksi, terutama untuk film dengan bujet besar. 

"Film bukan hanya merupakan komoditas hiburan, tapi juga membawa wajah Indonesia ke dunia internasional. Secara potensi, industri film Indonesia dengan keberagaman budaya dan jumlah penduduk Indonesia sebagai pasar utama sangatlah besar dan karenanya sangat layak untuk diselamatkan," kata Shanty Harmayn, produser film Indonesia.

Editor : Dani M Dahwilani