Benarkah Makan Tengah Malam Bisa Memicu Fatty Liver? Ini Kata Dokter
JAKARTA, iNews.id - Makan tengah malam kerap dianggap sebagai salah satu kebiasaan yang dapat memicu fatty liver atau perlemakan hati. Anggapan ini muncul karena makan larut malam sering dikaitkan dengan metabolisme tubuh yang melambat serta peningkatan berat badan.
Namun, benarkah makan tengah malam secara langsung bisa menyebabkan fatty liver? Simak informasi selengkapnya hanya di artikel ini.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam Primaya Hospital Tangerang, dr Nareswara Anugrah Widi Marbun, Sp.PD, menjelaskan bahwa makan tengah malam tidak bisa secara langsung disebut sebagai penyebab fatty liver. Meski demikian, waktu makan dan jenis makanan yang dikonsumsi tetap perlu diperhatikan.
"Kalau ngomong teori, ya, sebenarnya makan malam itu memang sebaiknya di bawah jam 7 (19.00) lah," kata dr Nareswara kepada iNews.id saat ditemui di Primaya Fair 2026 di AEON Mall BSD, Tangerang, Rabu (23/9/2026).
Menurut dia, tubuh secara alami mulai memasuki fase istirahat ketika malam hari. Kondisi tersebut membuat aktivitas metabolisme tubuh turut mengalami perubahan.
"Kalau semakin malam itu metabolisme tubuh tuh trend-nya menuju istirahat. Jadi istilahnya metabolismenya melambat," ujarnya.
Meski demikian, bukan berarti seseorang sama sekali tidak boleh makan setelah malam. Terutama bagi orang yang memiliki pekerjaan hingga larut, makan malam tetap dapat dilakukan dengan memperhatikan pilihan makanan.
"Kalau malam itu usahakan pilih makanan yang sehat, ya, misalnya ubi rebus, jagung rebus," tutur dr Nareswara.
Dokter Nareswara menegaskan, persoalan makan malam sebaiknya tidak dilihat secara sederhana sebagai penyebab langsung fatty liver.
"Jadi, makan larut malam, kalau untung-untung ada pekerjaan, ya, nggak apa-apa," katanya.
Yang menjadi persoalan adalah ketika makan larut malam dilakukan dengan pilihan makanan yang tinggi kalori, tinggi gula, tinggi lemak, atau ultra-processed food secara berulang.
Sebagai contoh, ketika seseorang bekerja hingga malam dan kemudian memilih makanan cepat saji atau makanan tinggi kalori sebagai menu rutin. Kebiasaan tersebut dapat berkontribusi terhadap kelebihan asupan kalori dan peningkatan berat badan.
"Jadi jangan yang ultra processed food atau fast food gitu," ujar dr Nareswara.
Fatty liver sendiri berkaitan erat dengan gangguan metabolisme. Kelebihan berat badan atau obesitas, resistensi insulin, diabetes tipe 2, kadar trigliserida tinggi, kurang aktivitas fisik, serta pola makan yang tidak sehat merupakan sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risikonya.
Artinya, makan larut malam bukan satu-satunya faktor yang menentukan seseorang mengalami fatty liver. Pola makan secara keseluruhan, jumlah kalori yang dikonsumsi, aktivitas fisik, berat badan, dan kondisi metabolik turut berperan.
Editor: Muhammad Sukardi