Gara-Gara Covid-19, Diperkirakan Ada 500.000 Kehamilan di Indonesia

Siska Permata Sari ยท Kamis, 28 Mei 2020 - 12:26 WIB
Gara-Gara Covid-19, Diperkirakan Ada 500.000 Kehamilan di Indonesia

Diperkirakan ada 500.000 kehamilan di Indonesia. (Foto: AFP)

JAKARTA, iNews.id - Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dr Hasto Wardoyo, Sp OG(K) menjelaskan dampak adanya pandemi virus corona (Covid-19) pada bonus demografi di Indonesia. Dia memperkirakan ada 370.000 hingga 500.000 pertambahan angka kehamilan.

Hal tersebut dipaparkan dalam Webinar ‘Tantangan Kependudukan di Tengah Pandemi Webinar’ pada Kamis (28/5/2020). Salah satu faktor pertambahan angka kehamilan tersebut mengacu pada data penurunan penggunaan alat kontrasepsi selama satu bulan terakhir, yakni dari Maret menuju April 2020.

“Memang di bulan Maret dan April ini penggunaan KB semuanya mengalami penurunan. Mulai dari yang peserta KB baru, peserta KB yang mengganti cara, hingga peserta KB ulangan,” tuturnya, dikutip iNews.id pada Kamis (28/5/2020).

Penurunan angka penggunaan alat kontrasepsi tersebut, diakibatkan oleh sejumlah faktor yang disebabkan pandemi Covid-19, baik di Indonesia maupun secara global.

“Kalau saya lihat, ini banyak klinik yang tidak siap, kemudian banyak yang tutup untuk menghindari penyebaran Covid-19. Lalu, produk-produk alat kontrasepsi juga terganggu, dan akhirnya memilih menggunakan alat kontrasepsi jangka pendek sehingga ini juga meningkatkan risiko kehamilan,” katanya.

Hal inilah, sambung dia, yang dapat menyebabkan ledakan angka kehamilan hingga ratusan ribu. Angka tersebut juga diambil dari jumlah putus pakai kontasepsi sebesar 10 juta orang dan persentasi pasangan usia subur 25 persen.

“Laporan kehamilan itu bisa 15 persen, kalau suami-istri kumpul dua sampai tiga kali seminggu. Ketika putus pakai IUD, saya ambil 15 persen yang hamil di bulan pertama. Kalau dilihat di sini dengan catatan stay at home, tidak pakai kontrasepsi, lalu hubungan seks dua sampai tiga kali seminggu, itu kehamilan bisa bertambah dari 370 ribu sampai 500 ribu,” katanya.

Editor : Tuty Ocktaviany