Inspirasi Tentukan Masa Depan Anak Sesuai Passion

Vien Dimyati ยท Sabtu, 31 Agustus 2019 - 17:59 WIB
Inspirasi Tentukan Masa Depan Anak Sesuai Passion

Menentukan Masa Depan Anak Sesuai Passion (Foto : Daily Telegraph)

JAKARTA, iNews.id - Sudah menjadi hal biasa jika masa depan anak selalu mengikuti kehendak orang tua. Tetapi, siapa sangka hal tersebut bisa berdampak buruk pada masa depan anak. Apalagi hal yang dikerjakan tidak sesuai dengan passion.

Buktinya, penelitian dari Indonesia Human Resources Forum pada 2017 menyatakan, sebanyak 87% pelajar di Indonesia mengakui mereka salah memilih jurusan yang ditempuh.

Kemudian, dari data Kemenaker pada 2017 terungkap 63% dari total lulusan baru Indonesia harus bekerja di luar dari bidang yang mereka ambil semasa perkuliahan. Menyedihkannya lagi, Wrong Majors Phenomenon melaporkan di tahun yang sama bahwa 653.586 lulusan baru terpaksa harus menganggur.

Stephanie Wijanarko selaku Program Director Vooya mengatakan, angka-angka di atas memiliki keterkaitan satu sama lain. Semua berawal dari lalainya seorang individu mengetahui minat dan bakat dirinya.

Menurutnya, hal ini disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, ekspektasi orang tua yang cenderung memaksakan ambisi kepada anak dan kurang memikirkan apa yang anak inginkan.

Kedua, tekanan sosial memosisikan arti kesuksesan hanya dari sisi uang dan pencitraan. “Banyak pelajar yang mengambil keputusan kurang sesuai dan terburu-buru. Misalnya, mereka berpikir bahwa sedikit ketertarikan atau rasa menggebu-gebu terhadap satu bidang dapat langsung dianggap sebagai passion, padahal belum tentu. Bisa saja bidang tersebut saat itu lagi happening, sehingga mereka ikutan suka. Atau mereka benar-benar tertarik, tapi di sisi lain pura-pura nggak tahu kalau mereka nggak ada bakat sama sekali di bidang itu," kata Stephanie Wijanarko, di Jakarta, Sabtu (31/8/2019).

Dia menambahkan, sistem edukasi yang kurang memberikan pengarahan mengenai pentingnya mengetahui passion. Selain itu, sekolah di Indonesia hanya menginginkan para murid punya nilai yang bagus di semua pelajaran, tanpa melihat minat mereka.

Hal yang terakhir dan yang mungkin paling bisa dirasakan oleh generasi muda sekarang adalah keraguan atas diri sendiri dan generasi yang 'mager', alias malas gerak. Ini merupakan generasi yang malas untuk riset atau mencari tahu mengenai jurusan yang mau diambil atau bahkan profesi yang ingin digeluti.

Passion juga bukan hanya sekadar memiliki karier bagus, gaji besar, atau kesuksesan diri. Dalam realitasnya, passion adalah tentang hasrat, sesuatu yang dikerjakan dengan tekun dan bahagia yang nantinya dapat pula menghasilkan.

“Banyak contoh orang-orang yang nggak tahu atau mengabaikan passion mereka dan terus melakukan hal yang mereka sebenarnya tidak sukai. Alasannya mungkin sederhana, karena itulah pekerjaan yang menghasilkan dan sebagainya. Mengabaikan passion bisa membuat seseorang menghadapi masa depan yang nggak bahagia dan penuh penyesalan," kata Stephanie.

Berawal dari kegelisahan, kesalahpahaman dan abainya individu terhadap passion ini akhirnya menginspirasi munculnya gerakan #TauApaMaumu. Ini merupakan gerakan yang bertujuan untuk meningkatkan kepedulian masyarakat Indonesia dalam menumbuhkan kepedulian terhadap diri sendiri, serta mengetahui apa yang benar-benar menjadi passion mereka.

“Lewat gerakan #TauApaMaumu kami berharap dapat memberikan sebuah kontribusi nyata bagi generasi muda untuk dapat mengejar kesuksesan sesuai dengan keinginan diri. Vooya percaya terbentuknya generasi yang #TauApaMaumu dapat membangun masyarakat yang tangguh, passionate, produktif, yang akhirnya membuahkan kontribusi yang lebih maksimal bagi lingkungan ataupun sosialnya," ujar Stephanie.


Editor : Vien Dimyati