Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : BPOM Tegaskan Jangan Percaya Jamu dengan Klaim Sembuh Seketika, Ini Alasannya!
Advertisement . Scroll to see content

Jangan Asal Minum Obat dan Jamu, Dokter Ungkap Risiko Kerusakan Ginjal

Sabtu, 01 Agustus 2026 - 18:31:00 WIB
Jangan Asal Minum Obat dan Jamu, Dokter Ungkap Risiko Kerusakan Ginjal
Kebiasaan mengonsumsi obat bebas, jamu, hingga herbal tanpa pengawasan medis ternyata dapat meningkatkan risiko kerusakan ginjal. (Foto: Ilustrasi/AI)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id – Kebiasaan mengonsumsi obat bebas, jamu, hingga herbal tanpa pengawasan medis ternyata dapat meningkatkan risiko kerusakan ginjal. Dokter Spesialis Penyakit Dalam, dr. Hamidah, mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap semua obat maupun bahan herbal aman dikonsumsi secara sembarangan.

Peringatan tersebut disampaikan dr. Hamidah dalam podcast bersama Dokter Spesialis Andrologi sekaligus influencer kesehatan, dr Jefry Tribowo, yang diunggah di kanal YouTube miliknya.

Menurut dr. Hamidah, obat-obatan, herbal, maupun jamu yang dikonsumsi tanpa anjuran dokter berpotensi membebani ginjal karena organ tersebut berperan menyaring dan membuang sisa zat yang masuk ke dalam tubuh melalui urine.

"Kebiasaan nomor empat mungkin dari obat, herbal, atau mungkin jamu-jamuan. Kalau dikonsumsi secara sembarangan tanpa anjuran dokter, tanpa pengawasan dokter," kata dr. Hamidah, dikutip Sabtu (1/8/2026).

Dia menjelaskan, ginjal akan bekerja lebih keras apabila tubuh menerima zat tertentu dalam jumlah berlebihan atau tidak sesuai dengan kondisi kesehatan seseorang. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat memicu peradangan hingga penurunan fungsi ginjal.

dr Hamidah mengungkapkan ada beberapa jenis obat yang relatif sering dikonsumsi masyarakat tanpa resep, tetapi berpotensi merusak ginjal jika digunakan terus-menerus atau dalam dosis tinggi. Obat tersebut antara lain golongan pereda nyeri, obat lambung, beberapa jenis antibiotik, hingga obat untuk penyakit jantung dan pembuluh darah.

"Jadi ada beberapa obat yang kalau misalnya dikonsumsi berlebihan, dosisnya tinggi, terus-menerus tanpa pengawasan, itu bisa merusak ginjal. Tapi nggak semua kondisi tiba-tiba dalam satu pasien merusak ginjal. Misalnya seperti obat golongan anti nyeri, obat lambung paling sering kemudian obat beberapa jenis antibiotik, atau mungkin ada golongan obat-obat jantung dan pembuluh darah," ujarnya.

Selain itu, dia juga menyoroti bahaya interaksi obat atau drug interaction. Menurutnya, obat yang sebenarnya aman bisa menjadi berbahaya ketika dikombinasikan dengan obat lain tanpa pengawasan tenaga medis.

"Atau mungkin dari obat tersebut sebenarnya aman nih tapi karena dikombinasi dengan obat lain, itu dapat meningkatkan toksisitas pada ginjal," katanya.

Meski demikian, dr Hamidah menegaskan masyarakat tidak perlu takut mengonsumsi obat selama sesuai anjuran dokter. Pada pasien penyakit kronis seperti diabetes maupun asam urat, penggunaan obat tetap diperlukan dengan penyesuaian dosis berdasarkan fungsi ginjal dan kadar kreatinin.

"Banyak kok obat-obatan yang ternyata aman buat ginjal atau ada juga obat-obat yang mungkin perlu perhatian kalau misalnya fungsi ginjalnya menurun atau kreatinin darah, kreatinin darahnya meningkat sekian-sekian. Itu udah dibuat tabel. Kayak obat asam urat ternyata dia tuh aman, tapi ternyata kalau dosis sekian dengan kreatinin sekian, asam urat sekian, wah itu udah mulai perhatian gitu," ujarnya.

Tak hanya obat medis, dr. Hamidah juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah percaya bahwa semua produk herbal, jamu, maupun suplemen vitamin pasti aman hanya karena berasal dari bahan alami.

"Sama mungkin yang sering miskonsepsi itu kan tentang jamu dan vitamin ya. Jamu juga sama kan tuh dia herbal juga ada pengeluarannya kan dari kencing juga ya. Kalau kita yang herbal-herbal apalagi yang nggak jelas kandungannya, terlalu tinggi segala macam, kita harus waspada juga karena ingat ginjal kita kan bertugas untuk mengeluarkan urin. Nah, kalau kita nggak memperhatikan apa yang kita makan, hati-hati," katanya.

Dia menjelaskan, racikan herbal yang tidak jelas kandungan maupun dosisnya, termasuk konsumsi vitamin dosis sangat tinggi, dapat memicu nefrotoksisitas atau keracunan ginjal.

"Sama halnya dengan vitamin ya, kadang kemarin tuh ada juga berita katanya konsumsi vitamin D bisa sakit ginjal, ternyata di cek vitamin D-nya 50.000 IU sehari. Itu kan di atas dari nilai normal banget ya, nah itu kan udah sembarangan. Makanya vitamin-vitamin pun sebetulnya aman, cuman ya diperhatikan dosisnya, segala sesuatu kalau berlebihan juga enggak bagus," ujarnya.

Editor: Dani M Dahwilani

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut