Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : BGN Siapkan Dewan Pengawas Program MBG, Libatkan Ahli Gizi hingga Chef
Advertisement . Scroll to see content

Jangan Remehkan Masakan Rumahan, Ahli Sebut Diet Modern Belum Tentu Lebih Sehat!

Senin, 03 Agustus 2026 - 17:48:00 WIB
Jangan Remehkan Masakan Rumahan, Ahli Sebut Diet Modern Belum Tentu Lebih Sehat!
Ilustrasi masakan rumahan yang ternyata punya gizi luar biasa. (Foto: Istimewa)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Banyak orang rela mengeluarkan biaya besar untuk mengikuti tren diet modern demi hidup lebih sehat. Mulai dari membeli makanan khusus diet, menghindari nasi, hingga mengonsumsi menu yang sedang viral di media sosial. 

Namun, tahukah Anda bahwa masakan rumahan yang selama ini dianggap sederhana justru memiliki prinsip gizi yang mirip dengan pola makan atlet profesional? Ketahui informasi selengkapnya di artikel ini.

Pakar nutrisi olahraga menyebut, makanan tradisional yang diwariskan secara turun-temurun sebenarnya telah menerapkan konsep gizi seimbang jauh sebelum istilah 'performance plate' populer di kalangan atlet elite.

Dokter Luigi Gratton, Vice President of Health and Wellness Herbalife, mengatakan selama puluhan tahun mempelajari nutrisi olahraga, dia menemukan bahwa banyak makanan rumahan memiliki komposisi gizi yang tidak kalah baik dibanding menu diet modern.

"Selama puluhan tahun berkecimpung di bidang nutrisi olahraga, saya belajar bahwa makanan yang dahulu dimasak oleh nenek kita di dapurnya, dengan resep dan bahan-bahan yang diwariskan secara turun-temurun, sesungguhnya jauh lebih dekat dengan prinsip nutrisi atlet elite daripada yang kita bayangkan," kata dr Luigi Gratton dalam keterangan resminya, Senin (3/8/2026).

Diet Modern Tidak Selalu Lebih Sehat

Diet modern sering dikaitkan dengan makanan tinggi protein, rendah karbohidrat, atau produk pangan yang diformulasikan secara khusus. Padahal, menurut dr Gratton, pola makan sehat tidak ditentukan oleh seberapa modern makanannya, melainkan keseimbangan kandungan gizinya.

Dia menjelaskan bahwa kuliner tradisional dari berbagai negara telah lama menerapkan prinsip nutrisi yang kini digunakan dalam dunia olahraga profesional.

"Kuliner tradisional dari berbagai belahan dunia dibangun di atas prinsip yang sama dengan pola makan para atlet profesional saat ini, yaitu keseimbangan makronutrien, penggunaan bahan pangan musiman, protein rendah lemak, biji-bijian utuh, lemak sehat, serta pemahaman bahwa makanan bukan hanya berfungsi sebagai sumber energi, tetapi juga sebagai bagian dari kebersamaan," ujarnya.

Dengan kata lain, makanan sehat tidak harus mahal atau mengikuti tren. Selama memenuhi kebutuhan zat gizi utama, masakan rumahan tetap mampu mendukung kesehatan tubuh.

Apa Itu Performance Plate?

Dalam dunia nutrisi olahraga, atlet elite menggunakan konsep Performance Plate untuk menyusun menu makan sesuai kebutuhan latihan dan pemulihan.

Konsep tersebut menekankan keseimbangan antara:

  • Karbohidrat sebagai sumber energi utama.
  • Protein untuk membangun dan memperbaiki jaringan tubuh.
  • Sayur dan buah sebagai sumber vitamin, mineral, serta antioksidan.
  • Lemak sehat yang mendukung fungsi hormon dan penyerapan vitamin.
  • Cairan yang cukup untuk menjaga hidrasi tubuh.

Prinsip ini ternyata tidak jauh berbeda dengan komposisi makanan rumahan yang menggabungkan nasi atau sumber karbohidrat lain, lauk berprotein, sayuran, dan buah dalam satu kali makan.

Masakan Tradisional Dunia Sudah Lama Menerapkan Gizi Seimbang

Berbagai negara memiliki makanan tradisional yang secara alami memenuhi prinsip nutrisi tersebut.

Bibimbap dari Korea, misalnya, memadukan nasi, sayuran, telur, dan daging tanpa lemak dalam satu mangkuk. Di Jepang, sup miso dikenal sebagai makanan fermentasi yang baik untuk kesehatan saluran cerna sekaligus mengandung elektrolit.

Sementara itu, huevos rancheros dari Meksiko mengombinasikan telur, nasi, dan kacang-kacangan sehingga menjadi sumber karbohidrat dan protein yang ideal. Brasil memiliki feijoada yang kaya protein dan karbohidrat, sedangkan negara-negara Mediterania mengandalkan paella yang memadukan nasi, makanan laut atau ayam, serta sayuran.

Di Timur Tengah, hummus, falafel, dan kurma menjadi contoh makanan yang kaya protein nabati, lemak sehat, serta karbohidrat alami. Adapun jollof rice dari Afrika Barat dan shakshuka dari Afrika Utara juga menawarkan kombinasi zat gizi yang lengkap untuk mendukung aktivitas fisik.

Rempah dan Makanan Fermentasi Juga Berperan

Selain komposisi makronutrien, beberapa bahan pangan tradisional juga memiliki manfaat kesehatan.

Kunyit, misalnya, diketahui memiliki sifat antiinflamasi. Sejumlah penelitian menunjukkan rempah ini dapat membantu mengurangi nyeri otot sekaligus mendukung proses pemulihan setelah berolahraga.

Makanan fermentasi seperti miso juga berpotensi membantu menjaga kesehatan mikrobiota usus. Sementara itu, kurma menjadi pilihan camilan sebelum aktivitas fisik karena mengandung gula alami yang cepat diserap tubuh serta kalium untuk membantu menjaga keseimbangan cairan.

Kunci Pola Makan Sehat Ada pada Gizi Seimbang

Dokter Gratton menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu meninggalkan makanan tradisional demi mengikuti tren diet modern. Yang jauh lebih penting adalah memastikan setiap kali makan mengandung gizi yang lengkap dan disesuaikan dengan kebutuhan aktivitas.

"Ketika Anda menyaksikan para pemain terbaik dunia berlaga musim panas ini, ingatlah bahwa makanan yang mereka konsumsi untuk mendukung performa sebenarnya tidak jauh berbeda dengan hidangan yang ada di dapur kita sendiri," katanya.

"Prinsip yang membantu menunjang performa Cristiano Ronaldo, Joseph Paintsil, Riqui Puig, dan para atlet elite lainnya juga dapat diterapkan oleh siapa saja, baik saat bermain sepak bola di akhir pekan maupun sekadar aktif beraktivitas bersama keluarga," tambah dr Gratton. 

Dia melanjutkan, "Ternyata, nasihat nenek kita memang benar. Fondasinya sudah ada sejak dulu, bahwa dunia olahraga hanya memberikan nama baru bagi prinsip tersebut."

Pada akhirnya, pola makan sehat tidak ditentukan oleh label 'diet', harga makanan, ataupun tren yang sedang populer. 

Masakan rumahan yang mengandung karbohidrat, protein, sayur, buah, lemak sehat, dan cukup cairan tetap menjadi fondasi penting untuk menjaga kesehatan, meningkatkan energi, sekaligus mendukung aktivitas sehari-hari.

Editor: Muhammad Sukardi

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut