Kak Seto Ungkap Asupan Gizi Pengaruhi Perkembangan Otak Anak

Dani M Dahwilani ยท Minggu, 31 Maret 2019 - 14:31 WIB
Kak Seto Ungkap Asupan Gizi Pengaruhi Perkembangan Otak Anak

Kak Seto mengungkapkan pentingnya gizi yang baik untuk mendorong anak berprestasi di masa depan. (Foto: Dok/Kak Seto)

JAKARTA, iNews.id - Psikolog dan pakar tumbuh kembang anak, Dr Seto Mulyadi alias Kak Seto mengungkapkan pentingnya gizi yang baik untuk mendorong anak berprestasi. Menurutnya, makanan bergizi sangat memengaruhi tumbuh dan perkembangan otak anak.

"Banyak hal yang memengaruhi anak berprestasi mulai dari pola pendidkan, kondisi fisik, lingkungan serta asupan gizi yang cukup untuk perkembangan otak anak. Kita harus mengenali potensi anak sejak dini dan makanan bergizi sangat memengaruhi perkembangan prestasi anak," ujar Kak Seto, dalam keterangan pers yang dilansir iNews.id, Minggu (31/3/2019).

Kak Seto mengajak semua pemangku kepentingan memenuhi hak anak termasuk mendapatkan kecukupan gizi. "Di negara-negara berkembang, penyebab anak-anak kurang berprestasi salah satunya adalah karena faktor ekonomi yang membuat tidak cukup asupan gizi. Prestasi anak Indonesia dapat diperbaiki dengan dukungan gizi dan lingkungan yang baik," katanya.

"Pemenuhan gizi itu mempengaruhi taraf kecerdasan dan IQ anak. Untuk itu, hak anak untuk menjadi lebih berprestasi harus dilakukan melalui pemenuhan gizi dan tentu saja melalui pendidikan optimal,” ujar Kak Seto.

Berdasarkan penelitian pakar gizi dari UI dan IPB termasuk Prof Dr Ahmad Sulaeman dalam artikel yang diterbitkan British Journal of Nutrition, terungkap delapan dari 10 anak Indonesia kekurangan asupan DHA jika mengacu pada standar WHO.

Demikian pula berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013, ditemukan delapan dari 10 anak usia sekolah Indonesia berumur 4-12 tahun kekurangan nutrisi otak karena asupan asam lemak esesial (Essential Fatty Acid) khususnya asupan DHA dan Omega 3 lebih rendah (dibanding angka acuan dari WHO).

Sementara penelitian PISA dari OECD 2018 menyebutkan, kemampuan matematika dan science pelajar Indonesia berada di urutan 62 dunia - di bawah Vietnam. Hal ini tentu saja menjadi keprihatinan bagi masa depan anak Indonesia.

Penelitian Kemendikbud juga menyatakan daya kemampuan berpikir anak Indonesia masih di bawah negara-negara maju Asia, seperti Korea dan Jepang meskipun waktu belajar anak Indonesia di sekolah lebih lama dibandingkan pelajar negara lain.

Menteri Kesehatan (Menkes) Nila F Moeloek dalam diskusi "Pentingnya Kerja sama Stakeholder untuk Perbaikan Gizi Indonesia" di Jakarta, baru-baru ini menyatakan, pentingnya pemahaman pemenuhan gizi juga harus diberikan pada guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Saat ini, masih banyak guru PAUD kurang paham dengan pemenuhan gizi anak-anak.

"Gurunya sendiri tak paham tentang pengetahuan gizi. Gerakan pemahaman pemenuhan kebutuhan gizi juga harus menyasar guru PAUD, tidak hanya anak-anaknya," ujarnya.

Menurutnya, guru-guru itu yang akan mendidik dan membimbing anak-anak di sekolah. Kendati, Menkes tidak menampik sangat susah mengubah pola pikir guru-guru yang sudah lama mengajar.


Editor : Dani Dahwilani