Kasus TBC di Indonesia Turun dalam 2 Tahun Terakhir, Menkes Tetap Ingatkan Bahaya Penularan
JAKARTA, iNews.id - Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan estimasi insiden tuberkulosis (TBC) di Indonesia mulai menunjukkan tren penurunan dalam dua tahun terakhir. Meski demikian, pemerintah tetap mewaspadai risiko penularan karena masih banyak kasus yang belum terdeteksi dan berpotensi menyebar di masyarakat.
Hal itu disampaikan Budi dalam konferensi pers dua tahun pemerintahan di bidang kesehatan di Auditorium Leimena, Gedung Adhyatma, Kementerian Kesehatan, Jakarta Selatan, Kamis (22/10/2026).
Budi menjelaskan, berdasarkan data estimasi insiden yang diterbitkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), angka kejadian TBC di Indonesia sempat meningkat selama beberapa tahun. Namun, tren tersebut mulai berubah sejak 2024.
“Yang menarik adalah estimasi WHO terhadap insiden tuberkulosis di Indonesia tuh naik terus. Nah, kita sudah dua tahun mulai mengalami penurunan,” ujar Budi.
Menurut dia, salah satu tantangan terbesar dalam penanganan TBC adalah menemukan penderita yang belum terdiagnosis. Padahal, penyakit menular ini dapat menyebar ketika pasien belum mendapatkan pengobatan.
Budi mencontohkan, pada 2020, estimasi jumlah kasus TBC di Indonesia mencapai sekitar 824 ribu kasus. Namun, jumlah kasus yang berhasil ditemukan saat itu masih kurang dari 400 ribu.
Kondisi tersebut menyebabkan banyak penderita tidak mengetahui dirinya terinfeksi sehingga berpotensi menularkan penyakit kepada orang lain.
“Yang ketemu kurang dari setengahnya, kurang dari 50 persen. Akibatnya apa? Mereka jalan-jalan ke mana-mana menularkan penyakit ini,” kata Budi.
Penemuan Kasus TBC Terus Ditingkatkan
Untuk mengatasi persoalan tersebut, pemerintah meningkatkan skrining guna menemukan lebih banyak penderita TBC agar segera mendapatkan pengobatan.
Budi memaparkan, jumlah kasus yang berhasil ditemukan meningkat dari sekitar 440 ribu pada 2022 menjadi sekitar 700 ribu kasus, kemudian 800 ribu kasus, hingga mencapai 886 ribu kasus dalam perkembangan yang dipaparkannya.
Menurut dia, peningkatan penemuan kasus merupakan langkah penting untuk memutus rantai penularan. Semakin banyak penderita yang teridentifikasi dan mendapatkan pengobatan, semakin besar peluang untuk mengurangi penyebaran penyakit di masyarakat.
Pemerintah juga menetapkan target penanganan TBC melalui pendekatan 90-95-90. Artinya, 90 persen dari estimasi kasus diharapkan dapat ditemukan, 95 persen dari kasus yang ditemukan mendapatkan pengobatan, dan 90 persen pasien yang menjalani pengobatan berhasil menyelesaikan terapi dengan hasil yang baik.
Selain penemuan kasus, Budi mengingatkan pentingnya kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan sesuai anjuran tenaga medis hingga tuntas.
Dia menegaskan, pasien tidak boleh menghentikan pengobatan hanya karena gejala mulai membaik. Pengobatan yang tidak tuntas dapat meningkatkan risiko kekambuhan dan resistansi obat sehingga penanganan menjadi lebih sulit.
“Karena pengobatan tuh sukses apa enggaknya tergantung dia nyelesaiin enggak, karena TB tuh lama minum obatnya tuh empat bulan. Setiap hari mesti minum obat,” ujar Budi.
Kemenkes Perluas Skrining hingga 10.000 Puskesmas
Untuk mempercepat penemuan kasus, Kementerian Kesehatan berencana memperluas penggunaan peralatan skrining TBC, termasuk portable X-ray dan mobile X-ray.
Budi menyebut pemerintah saat ini telah memiliki sekitar 400 hingga 500 unit peralatan tersebut. Jumlahnya akan ditambah secara bertahap dalam beberapa tahun ke depan.
Pemerintah juga berencana mendistribusikan alat pemeriksaan molekuler ke 10.000 puskesmas. Alat ini dapat membantu mendeteksi bakteri penyebab TBC melalui pemeriksaan sampel dahak pasien yang dicurigai terinfeksi.
Dengan memperluas akses pemeriksaan, pemerintah berharap diagnosis dapat dilakukan lebih cepat sehingga pasien segera mendapatkan penanganan yang tepat.
Selain itu, Kemenkes menjalankan terapi pencegahan TBC bagi orang-orang yang berisiko terinfeksi, termasuk anggota keluarga yang tinggal serumah dengan pasien.
Upaya tersebut dilakukan untuk mengurangi risiko penularan di lingkungan rumah sekaligus menekan angka kejadian TBC di Indonesia.
Meski estimasi insiden TBC mulai menunjukkan penurunan, upaya menemukan kasus secara aktif, memastikan pasien menjalani pengobatan hingga tuntas, dan melindungi orang-orang yang berisiko tetap menjadi bagian penting dalam pengendalian penyakit tersebut.
Editor: Dani M Dahwilani