Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Keringat Bukan Penyebab Bau Badan, Ternyata Ini Biang Keroknya!
Advertisement . Scroll to see content

Ketiak Sering Basah Padahal Cuma Duduk? Kenali Hiperhidrosis dan Penyebabnya!

Kamis, 03 September 2026 - 16:32:00 WIB
Ketiak Sering Basah Padahal Cuma Duduk? Kenali Hiperhidrosis dan Penyebabnya!
Ilustrasi keringat berlebih. (Foto: Ilustrasi AI)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id – Ketiak berkeringat setelah berolahraga atau berada di tengah cuaca panas merupakan kondisi yang wajar. Namun, bagaimana jika ketiak terus basah meski sedang duduk santai, berada di ruangan sejuk, atau tidak melakukan aktivitas berat?

Kondisi tersebut tidak selalu sekadar persoalan kebersihan atau penggunaan deodoran. Produksi keringat yang berlebihan tanpa pemicu yang jelas dapat menjadi tanda hiperhidrosis.

Dokter Spesialis Dermatologi Venereologi dan Estetika RS Pondok Indah – Puri Indah dan RS Pondok Indah – Bintaro Jaya, dr. Irwan Saputra Batubara, Sp.D.V.E, menjelaskan bahwa berkeringat pada dasarnya merupakan mekanisme alami tubuh untuk mengatur suhu.

Namun, pada penderita hiperhidrosis, kelenjar keringat dapat tetap bekerja secara berlebihan meskipun tubuh tidak sedang membutuhkan banyak keringat untuk mendinginkan diri.

Hiperhidrosis dapat terjadi pada sejumlah bagian tubuh, termasuk telapak tangan, telapak kaki, wajah, hingga ketiak. Jika terjadi di area ketiak, kondisi ini dikenal sebagai hiperhidrosis aksila.

Keringat yang keluar bisa sangat banyak hingga membasahi atau bahkan menembus pakaian. Kondisi tersebut tidak hanya menimbulkan rasa tidak nyaman, tetapi juga dapat mengganggu aktivitas sehari-hari dan membuat seseorang kehilangan kepercayaan diri.

Ada Dua Jenis Hiperhidrosis

Berdasarkan penyebabnya, hiperhidrosis secara umum dibedakan menjadi dua, yakni hiperhidrosis primer dan sekunder.

Hiperhidrosis primer biasanya mengenai satu atau beberapa area tubuh, seperti ketiak, tangan, kaki, atau dahi. Kondisi ini dapat muncul sejak masa anak-anak hingga remaja dan tidak selalu berkaitan dengan penyakit tertentu.

Faktor genetik atau riwayat keluarga diduga turut berperan dalam terjadinya hiperhidrosis primer.

Sementara itu, hiperhidrosis sekunder dapat menyebabkan keringat berlebih di area tubuh yang lebih luas. Kondisi ini biasanya berkaitan dengan penyakit atau kondisi medis lain, seperti gangguan tiroid dan diabetes, maupun penggunaan obat-obatan tertentu.

Hiperhidrosis sekunder juga cenderung baru muncul ketika seseorang telah dewasa.

Karena itu, keringat berlebih yang muncul secara tiba-tiba atau baru dirasakan ketika dewasa sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai hiperhidrosis primer. Pemeriksaan dokter diperlukan untuk mengetahui kemungkinan penyebab yang mendasarinya.

Kapan Keringat Berlebih Perlu Diperhatikan?

Tidak semua orang yang mudah berkeringat mengalami hiperhidrosis. Cuaca panas, olahraga, stres, rasa gugup, atau aktivitas fisik memang dapat meningkatkan produksi keringat.

Namun, kondisi patut dicurigai sebagai hiperhidrosis ketika keringat keluar secara berlebihan, terjadi berulang, dan mengganggu kehidupan sehari-hari.

Pada hiperhidrosis aksila, misalnya, keringat dapat membuat pakaian cepat basah meskipun seseorang sedang tidak beraktivitas berat. Masalah tersebut juga dapat membuat penderitanya merasa tidak nyaman ketika harus bertemu orang lain atau menjalani aktivitas profesional.

"Dalam jangka panjang, persoalan yang terlihat sederhana ini dapat memengaruhi kualitas hidup dan kepercayaan diri," kata dr Irwan dalam keterangan resminya, Kamis (3/9/2026). 

Deodoran Tidak Selalu Cukup

Salah satu cara yang sering dilakukan untuk mengatasi keringat berlebih adalah menggunakan deodoran atau produk antiperspiran. Namun, pada sebagian orang, cara tersebut tidak memberikan hasil yang memadai.

Penggunaan produk tertentu juga dapat menyebabkan keluhan pada kulit, seperti kemerahan atau rasa gatal.

Pilihan penanganan hiperhidrosis sebenarnya cukup beragam dan perlu disesuaikan dengan penyebab serta tingkat keparahannya. Menurut dr Irwan, salah satunya adalah tindakan medis untuk mengurangi aktivitas kelenjar keringat pada area tertentu.

Salah satu prosedur yang tersedia untuk hiperhidrosis aksila adalah Advance Sweat Reduction. Prosedur ini menggunakan teknik laser assisted liposuction untuk membantu mengikis, merusak, dan mengangkat kelenjar keringat di bawah kulit area ketiak melalui sayatan kecil.

Sebelum tindakan, dokter terlebih dahulu dapat melakukan pemetaan area yang paling aktif menghasilkan keringat, salah satunya menggunakan starch-iodine test. Area dengan aktivitas keringat tinggi akan menunjukkan perubahan warna sehingga dapat membantu dokter menentukan area yang akan ditangani.

"Prosedur dilakukan dengan anestesi lokal sehingga pasien tetap sadar selama tindakan," ungkap dr Irwan.

Jangan Asal Mengatasi Keringat Berlebih

Penanganan hiperhidrosis sebaiknya tidak hanya berfokus pada menghilangkan keringat, tetapi juga mencari tahu penyebabnya.

Jika keringat berlebih merupakan akibat penyakit tertentu, seperti gangguan tiroid atau diabetes, kondisi medis yang mendasarinya perlu mendapatkan penanganan.

Sementara pada hiperhidrosis aksila yang tidak membaik dengan penanganan sederhana dan sudah mengganggu aktivitas maupun kepercayaan diri, dokter dapat mempertimbangkan pilihan terapi lain, termasuk prosedur medis.

Dengan demikian, ketiak yang terus-menerus basah meski seseorang hanya duduk dan tidak sedang kepanasan bukan kondisi yang harus selalu dianggap sepele. Jika berlangsung terus-menerus dan mengganggu aktivitas, pemeriksaan oleh dokter spesialis dapat membantu menentukan apakah kondisi tersebut merupakan hiperhidrosis serta penanganan yang paling sesuai.

Editor: Muhammad Sukardi

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut