Kuning Telur Tak Perlu Ditakuti, Ahli Gizi Ungkap Mitos Kolesterol
Dia menilai, masih banyak masyarakat yang salah kaprah dengan menganggap semua makanan berkolesterol otomatis meningkatkan kolesterol darah. Padahal, faktor yang lebih berpengaruh adalah tingginya asupan lemak jenuh dan lemak trans dari makanan olahan maupun gorengan.
Selain meluruskan mitos tentang kolesterol, Dr Karina juga menjelaskan cara memasak telur turut menentukan kualitas gizinya. Menurut dia, telur yang dimasak dengan benar justru memiliki protein yang lebih mudah diserap tubuh.
"Proses memasak telur dapat meningkatkan daya cerna dan penyerapan protein hingga sekitar 91 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan telur mentah yang hanya sekitar 51 persen," ujarnya.
Meski demikian, dia mengingatkan agar telur tidak dimasak dengan suhu terlalu tinggi dalam waktu lama. Suhu ideal memasak telur berkisar 60 hingga 80 derajat Celsius, sedangkan pemanasan di atas 150 hingga 160 derajat Celsius dapat merusak sebagian asam amino sehingga kualitas proteinnya menurun.
Bagi masyarakat yang ingin menjaga berat badan, Dr Karina menyarankan memilih metode memasak yang minim minyak, seperti merebus, membuat *poached egg*, atau mengukus. Jika ingin membuat telur ceplok maupun telur dadar, penggunaan minyak sebaiknya dibatasi dengan memanfaatkan wajan anti lengket atau minyak semprot.
Dia menegaskan, baik telur ceplok maupun telur dadar tetap menjadi pilihan menu bergizi selama diolah dengan cara yang tepat. Oleh karena itu, masyarakat tidak perlu lagi takut mengonsumsi kuning telur hanya karena khawatir kolesterol, melainkan lebih memperhatikan pola makan secara keseluruhan agar tetap sehat dan seimbang.
Editor: Dani M Dahwilani