LVAD Buka Harapan Baru Pasien Gagal Jantung Berat, Ini Alasannya
JAKARTA, iNews.id – Teknologi penanganan gagal jantung terus berkembang. Salah satunya melalui left ventricular assist device (LVAD) atau perangkat yang membantu kerja jantung memompa darah pada pasien dengan gagal jantung berat.
Namun, dokter mengingatkan bahwa LVAD bukan terapi yang dapat diberikan kepada semua pasien gagal jantung. Pemilihan pasien dan waktu penanganan menjadi faktor penting untuk menentukan keberhasilan terapi.
Dokter Spesialis Bedah Toraks, Kardiak, dan Vaskular dengan Sub Spesialis Konsultan Bedah Jantung Dewasa RSUP Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM), dr M Arza Putra, Sp.BTKV, Subsp. JD(K) mengatakan pasien gagal jantung perlu ditangani dan dirujuk pada waktu yang tepat.

Menurutnya, keterlambatan dapat membuat kondisi pasien semakin kompleks karena fungsi organ lain berisiko ikut menurun.
"Hal yang paling penting untuk kasus pertama adalah pemilihan pasien. Waktu sangat penting," ujar dr Arza dalam webinar Global Heart Longevity 5.0 Summit, Sabtu (5/9/2026).
LVAD merupakan perangkat mekanis yang membantu ventrikel kiri, yaitu bagian jantung yang bertugas memompa darah kaya oksigen ke seluruh tubuh.
Pada kondisi gagal jantung berat, kemampuan jantung untuk memompa darah dapat menurun secara signifikan. Dalam kondisi tertentu, LVAD digunakan untuk membantu mempertahankan aliran darah sehingga beban kerja jantung dapat terbantu.
Penggunaan LVAD membutuhkan proses yang tidak sederhana. Pasien harus melalui evaluasi dan seleksi oleh tim medis untuk menentukan apakah kondisi klinisnya sesuai untuk mendapatkan terapi tersebut.
Karena itu, keberadaan teknologi saja tidak cukup. Kemampuan dokter dalam mengenali pasien yang membutuhkan terapi lanjutan serta melakukan rujukan pada waktu yang tepat juga menjadi bagian penting dalam penanganan gagal jantung.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan kebutuhan terhadap layanan gagal jantung lanjut di Indonesia cukup besar. Dia menyebut prevalensi gagal jantung di Indonesia mencapai sekitar lima juta kasus, dengan angka kematian tahunan lebih dari 250 ribu orang.
"Masalah jantung adalah pembunuh kedua di Indonesia dengan kematian setiap tahun lebih dari 250.000," ujar Budi.
Besarnya beban penyakit tersebut membuat pengembangan layanan gagal jantung tidak cukup hanya mengandalkan tindakan medis ketika kondisi pasien sudah berat.
Pasien perlu dikenali sejak lebih awal sehingga dokter dapat menentukan terapi yang sesuai dan melakukan rujukan sebelum terjadi penurunan kondisi yang semakin kompleks.
Dokter Arza menjelaskan, pasien yang terlambat mendapatkan penanganan dapat mengalami gangguan pada berbagai organ akibat menurunnya kemampuan jantung dalam memasok darah ke tubuh.
Situasi tersebut dapat memengaruhi peluang dan kompleksitas intervensi yang akan dilakukan. Karena itu, deteksi, pemantauan, dan sistem rujukan menjadi bagian penting dari layanan gagal jantung lanjut.
Pemasangan LVAD juga bukan berarti perjalanan pengobatan pasien selesai. Setelah tindakan, pasien tetap membutuhkan pemantauan dan perawatan jangka panjang.
Perawatan tersebut dapat mencakup rehabilitasi jantung, kontrol rutin, pemantauan kondisi pasien, pengobatan, serta dukungan psikologis dan sosial.
Pengalaman salah satu pasien RSCM, Suratmi, menunjukkan pentingnya tahapan tersebut. Sebelum mendapatkan penanganan, aktivitas sehari-hari yang membutuhkan tenaga menjadi terbatas.
Setelah menjalani pemasangan LVAD dan rehabilitasi, kondisi Suratmi berangsur membaik. Dia mulai mampu berjalan lebih jauh, mengerjakan pekerjaan rumah tangga, dan secara bertahap kembali menjalani aktivitas sehari-hari.
Meski demikian, pengalaman setiap pasien dapat berbeda. Pasien yang telah menjalani tindakan tetap harus mengikuti pengobatan dan kontrol sesuai anjuran dokter.
Hal tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan terapi gagal jantung tidak hanya ditentukan oleh prosedur medis, tetapi juga oleh perawatan setelah tindakan.
Direktur Utama RSCM Supriyanto Dharmoredjo mengatakan pengembangan layanan gagal jantung membutuhkan ekosistem yang mencakup pelayanan, pendidikan, dan penelitian.
RSCM mengembangkan Advanced Heart Failure Program serta membangun tim multidisiplin untuk menangani pasien dengan gagal jantung lanjut, termasuk dalam pengembangan program LVAD.
Dalam prosesnya, tenaga kesehatan terlibat sejak tahap seleksi pasien, persiapan tindakan, operasi, perawatan intensif, hingga rehabilitasi dan pemantauan setelah pasien pulang.
Pengalaman dari prosedur LVAD tersebut kemudian menjadi bagian dari upaya memperkuat kemampuan layanan gagal jantung di Indonesia.
Dokter Arza mengatakan tantangan berikutnya adalah memperkuat registri pasien, meningkatkan kemampuan rumah sakit dalam mengenali kasus gagal jantung, serta memperluas jejaring rujukan.
"Penyakit gagal jantung dan rehabilitasi kardiologi juga berperan penting. Kami harus mengambil teknologi dan pengetahuan yang diperlukan untuk membangun tim yang kuat," katanya.
Selain LVAD, perkembangan teknologi digital dan kecerdasan artifisial (AI) juga mulai dilihat sebagai bagian dari ekosistem layanan gagal jantung.
Founder dan Chairman Borderless Healthcare Group sekaligus pendiri HeartSpan.ai, dr Wei Siang Yu, mengatakan masa depan layanan gagal jantung membutuhkan sistem yang memungkinkan dokter berbagi pengetahuan tanpa dibatasi wilayah.
Salah satu konsep yang dikembangkan adalah knowledge sharing cloud, yang memungkinkan dokter lokal berkomunikasi dengan spesialis dari daerah lain maupun dari luar negeri.
Menurut dr Wei, teknologi tersebut dapat membantu tenaga kesehatan memperoleh akses terhadap pengetahuan dan pengalaman klinis, terutama ketika menghadapi kasus yang membutuhkan keahlian tertentu.
"Dokter lokal dapat berbicara dengan spesialis lokal atau bahkan spesialis global, serta didukung profesional medis ketika berkonsultasi dengan pasien," katanya.
AI, kata dr Wei, juga dapat digunakan untuk membantu menyediakan pengetahuan medis dalam bahasa lokal. Dalam konsep tersebut, AI ditempatkan sebagai teknologi pendukung bagi tenaga kesehatan, bukan pengganti dokter dalam mengambil keputusan medis.
Editor: Muhammad Sukardi