Makan Kue Lebaran Berlebih Turunkan Kekebalan Tubuh di Tengah Ancaman Covid-19

Siska Permata Sari ยท Jumat, 22 Mei 2020 - 22:18 WIB
Makan Kue Lebaran Berlebih Turunkan Kekebalan Tubuh di Tengah Ancaman Covid-19

Kue-kue Lebaran merupakan makanan sumber karbohidrat dengan indeks glikemik tinggi dan meningkatkan stres oksidatif. (Foto: Washington Post)

Leukocytic index (LI), yaitu ukuran seberapa banyak mikroorganisme yang dapat dimakan oleh satu sel leukosit dalam 1 jam, menurun hingga 50 persen dari kondisi awal puasa selama semalam. Dibutuhkan waktu lebih dari 5 jam untuk LI kembali menjadi normal.

"Sel leukosit/darah putih akan terus tertekan dan tidak dapat bekerja menghancurkan virus dengan optimal bila terus menerus atau secara berlebihan mengkonsumsi makanan tinggi pati atau gula, seperti konsumsi kue lebaran, yang banyak orang mengganggapnya sebagai makanan ringan yang dapat dimakan kapan saja tanpa menghitung jumlah porsi dan dapat dikonsumsi terus menerus," katanya.

Pada dasarnya, lanjut Nadiyah, asupan karbohidrat penting dan bermanfaat untuk kebutuhan energi bila dikonsumsi sebagai bagian dari pola gizi seimbang. Karbohidrat bisa menjadi ‘racun’ jika dikonsumsi tidak sesuai dengan pola gizi seimbang.

Karbohidrat dapat berupa jenis gula sederhana/monosakarida, oligosakarida, dan polisakarida. Gula sederhana seperti sukrosa (gula pasir) yang banyak digunakan untuk membuat kue-kue lebaran memiliki indeks glikemik yang tinggi. Jenis polisakarida atau karbohidrat kompleks yang dapat menurunkan stres oksidatif adalah serat, yang dapat diperoleh dari serealia/biji-bijian utuh, kacang-kacangan, buah-buahan dan sayuran.

"Jadi bijaklah dalam mengkonsumsi kue lebaran di tengah pandemi Covid-19, hitung dan batasi berapa buah kue yang anda makan, sajikan kacang-kacangan (tidak digoreng) dan buah-buahan sebagai makanan ringan di hari raya untuk mempertahankan dan meningkatkan imunitas tubuh anda di tengah pandemi," ujar Nadiyah.

Editor : Dani Dahwilani

Halaman : 1 2 Tampilkan Semua