Makan Kue Lebaran Berlebih Turunkan Kekebalan Tubuh di Tengah Ancaman Covid-19

Siska Permata Sari ยท Jumat, 22 Mei 2020 - 22:18 WIB
Makan Kue Lebaran Berlebih Turunkan Kekebalan Tubuh di Tengah Ancaman Covid-19

Kue-kue Lebaran merupakan makanan sumber karbohidrat dengan indeks glikemik tinggi dan meningkatkan stres oksidatif. (Foto: Washington Post)

JAKARTA, iNews.id - Mendekati Hari Raya Idul Fitri, masyarakat mulai ramai berbelanja atau membuat kue Lebaran dengan berbagai jenis dan rasa. Apapun namanya, kue Lebaran umumnya memiliki karakter manis, tinggi kalori, minim serat dan kandungan zat gizi mikro.

Bagaimana relevansinya dengan masa pandemi virus corona (Covid-19) yang sekarang tengah dihadapi? Adakah kaitan antara potensi meningkatnya konsumsi kue Lebaran selepas Ramadan dengan peningkatan risiko terinfeksi SARS-Cov-2?

Dosen Program Studi Gizi Universitas Esa Unggul Nadiyah, S.Gz, M.Si, CSRS menerangkan makanan tinggi kandungan gula dan kalori meningkatkan risiko terjadinya stres oksidatif dalam tubuh. Stres oksidatif adalah keadaan di mana jumlah radikal bebas dalam tubuh melebihi kapasitas tubuh untuk menetralkannya.

Kue lebaran yang umum sekali dikonsumsi masyarakat salah satunya adalah kue nastar. Satu buah kue nastar (sekitar 5 gram) mengandung sekitar 26 kalori, dimana 65 persen adalah karbohidrat. Satu buah nastar mengandung gula hingga sekitar 5 gram. Bila mengkonsumsi nastar 10 buah maka kalori yang diperoleh sebesar 260 kalori, melebihi kalori yang didapat dari satu centong penuh nasi seberat 100 gram (180 kalori).

"Kue-kue lebaran merupakan makanan sumber karbohidrat dengan indeks glikemik tinggi dan meningkatkan stres oksidatif. Perlu diketahui risiko terinfeksi SARS-Cov-2 meningkat pada orang yang mengalami stres oksidatif dalam tubuh. Stres oksidatif meningkatkan risiko terjadinya inflamasi dalam tubuh," ujar Nadiyah dalam keterangan tertulis kepada iNews.id, Jumat (22/5/2020).

Dia mengungkapkan kue-kue Lebaran yang banyak dikonsumsi masyarakat adalah makanan sumber kalori dan hampir tidak mengandung serat sama sekali. Pola makan yang tinggi kalori tanpa diiringi dengan asupan serat yang cepat meningkatkan berat badan. Ditambah masa karantina mandiri di rumah sebagai salah satu upaya physical distancing umumnya menyebabkan kurangnya aktivitas fisik, apalagi tanpa diiringi olahraga rutin di rumah.

Temuan terbaru di beberapa Rumah Sakit di USA menunjukkan tidak hanya lansia yang dominan menjadi pasien Covid-19 di ruang ICU, ditemukan banyak pasien Covid-19 dengan usia lebih muda di ruang ICU. Penelitian terhadap 265 pasien Covid-19 yang telah dipublikasikan di jurnal internasional Lancet menunjukka rata-rata pasien Covid-19 yang lebih muda memiliki masalah kegemukan dan obesitas. Kegemukan dan obesitas sendiri menyebabkan prognosis yang buruk bagi pasien Covid-19.

"Penting untuk memantau berat badan secara periodik dalam menyikapi potensi meningkatknya konsumsi kue-kue manis secara berlebihan di Hari Idul Fitri dan kurangnya aktivitas fisik di masa karantina mandiri," katanya.

Penelitian terkait respons imunitas terhadap makanan tinggi gula menunjukkan semua bentuk karbohidrat (pati atau gula) dapat mengurangi keefektifan sel darah putih dalam menghancurkan bakteri dan virus. Ketika imunitas tubuh rendah, maka tubuh mudah terinfeksi SARS-Cov-2 (virus dari Covid-19) yang menyerang sel limfosit T.

Nadiyah menjelaskan limfosit adalah salah satu jenis sel darah putih/leukosit yang ada dalam peredaran darah. Sel darah putih berfungsi membantu melindungi tubuh terhadap penyakit dan melawan infeksi bakteri dan virus. Hasil penelitian, setelah puasa semalam kemudian konsumsi 100 gram karbohidrat (gula atau pati), menunjukkan semua bentuk karbohidrat (pati atau gula) mengurangi keefektifan sel darah putih dalam menghancurkan bakteri dan virus.

Editor : Dani Dahwilani

Halaman : 1 2 Tampilkan Semua