Mengenali Penyakit Kusta, Gejala hingga Pengobatannya

Siska Permata Sari ยท Jumat, 08 Februari 2019 - 22:34 WIB
Mengenali Penyakit Kusta, Gejala hingga Pengobatannya

Biasakan cek kesehatan agar terhindar dari berbagai penyakit. (Foto: Healthcheckup)

JAKARTA, iNews.id - Kusta merupakan salah satu penyakit kulit yang identik dengan stigma dan mitos. Padahal, kusta adalah infeksi pada saraf dan kulit yang disebabkan oleh mycobacterium leprae.

Penyakit ini ternyata bisa menular melalui pernapasan, udara, dan kontak langsung dengan penderita yang belum diobati.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kemenkes dr Wiendra Waworuntu, M.Kes mengatakan, penyakit kusta banyak dianggap biasa oleh masyarakat. Padahal bila terlambat ditangani, bisa menjadi sumber penularan.

“Ini (kusta) tidak berasa karena itu banyak masyarakat menganggapnya biasa. Sebenarnya permasalahan kusta itu hanya dia bercak dan tidak berasa, jadi dia anggap biasa. Padahal kalau terlambat ditemukan dan aktif bakterinya menjadi sumber penularan,” kata dr Wiendra, seperti dikutip dari keterangan pers, Jumat (8/2/2019).

Dia memaparkan, faktor yang memengaruhi penularan kusta salah satunya adalah penderita kusta yang belum mengonsumsi obat khusus penyakit tersebut. Masa inkubasi, sambung dia, perlu waktu lama rata-rata tiga hingga lima tahun dan kejadian penyakit ini terbanyak pada negara tropis, dan Indonesia berada pada urutan ketiga di dunia setelah India dan Brasil dalam jumlah kasus baru yang ditemukan dalam satu tahun.

Angka penemuan kasus baru Indonesia saja mencapai 6,07 per 100.000 penduduk. Total kasus baru sebanyak 15.910.

Secara Nasional, Indonesia sudah mencapai eliminasi kusta (angka kasus kusta terdaftar atau angka prevalensi <1/10.000 penduduk) pada 2000. Itu saja, kata dia, masih ada sepuluh provinsi yang belum mencapai eliminasi kusta.

Selanjutnya pada akhir 2017, masih terdapat 142 Kabupaten/Kota belum mencapai eliminasi kusta yang tersebar di 22 provinsi. Bentuk kelainan pada tubuh yang menderita kusta bisa berbeda. Pada kulit ditandai dengan bercak putih maupun bercak merah dan mati rasa. Kadang berupa benjolan-benjolan di lengan, wajah, badan, dan telinga.

"Pada saraf tepi ditandai dengan mati rasa pada area telapak tangan atau telapak kaki yang mengalami kerusakan saraf, kelumpuhan di tangan dan kaki, kering, dan tidak berkeringat," katanya.

Sementara itu Divisi Dermatologi Infeksi Tropik Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Dr dr Sri Linuwih Menaldi SW, SpKK(K) mengatakan, kusta adalah penyakit menular tapi tidak mudah menular.

Jika kelainan itu terjadi pada mata, kata dia, ditandai dengan refleks kedip berkurang, dan kelopak mata tidak menutup dengan baik.

Masalah yang lebih seriusnya adalah terjadi cacat menetap seperti jari bengkok, memendek atau terputus, kelumpuhan tangan dan kaki, kelopak mata tidak menutup (lagoftalmos), dan kebutaan.

“Yang perlu kita waspadai adalah Indonesia penyumbang kusta ketiga di dunia. Kelainan pada kusta ini mirip dengan penyakit lain, seperti panu, kurap, dan kaligata,” tuturnya.

Mereka yang telah terkena kusta, harus melakukan serangkaian pengobatan yang efektif dengan diberikan multi drug treatment (MDT) yang tersedia gratis di Puskesmas dan beberapa rumah sakit. Lama pengobatan sekira enam bulan untuk tipe PB (pausibasiler), dan 12 bulan untuk tipe MB (multibasiler).

Dia mengatakan, tujuan dari pengobatan kusta adalah memutus rantai penularan, mencegah cacat atau menangani agar cacat tidak berlanjut, menangani komplikasi, memperbaiki kualitas hidup penderita. 

“Kusta tidak identik dengan cacat. Kusta dapat diobati, temukan tanda dan gejala dini kusta, hilangkan stigma dan diskriminasi,” ujarnya.


Editor : Tuty Ocktaviany