Penyakit Tak Menular Berbahaya Incar Kaum Milenial, Yuk Konsumsi Buah dan Sayuran

Siska Permata Sari ยท Senin, 06 Juli 2020 - 13:49 WIB
Penyakit Tak Menular Berbahaya Incar Kaum Milenial, Yuk Konsumsi Buah dan Sayuran

Biasakan konsumsi sayuran dan buah agar badan selalu sehat. (Foto: AFP)

JAKARTA, iNews.id - Penyakit tak menular (PTM) berbahaya seperti masalah jantung, diabetes melitus, hingga kanker saat ini tak hanya menyerang orang lanjut usia (lansia). Seiring berjalannya waktu, PTM penyebab kematian tersebut juga mengincar kaum muda di usia produktif.

Hal tersebut diungkapkan Direktur Pencegahan Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan Cut Putri Ariane.

“Penyakit tak menular sangat memprihatikan, karena kalau dulu anggapannya kan pada orangtua, tapi sekarang trennya mulai naik pada usia 10 sampai 14 tahun,” katanya, seperti dikutip dari siaran pers, Senin (6/7/2020).

Cut menjelaskan, penyebab masih tingginya prevalensi PTM di Indonesia adalah gaya hidup tidak sehat. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018, sebanyak 95,5 persen masyarakat Indonesia kurang mengonsumsi sayur dan buah.

Selanjutnya, 33,5 persen masyarakat kurang aktivitas fisik, 29,3 persen masyarakat usia produktif merokok setiap hari, 31 persen mengalami obesitas sentral serta 21,8 persen terjadi obesitas pada dewasa.

“Perilaku masyarakat di era teknologi sekarang ini ternyata tidak semakin baik. Mungkin momentum ini (pandemi virus corona) yang mengingatkan kita semua bahwa ketika imunitas tubuh kita turun, orang semakin banyak yang peduli untuk mengubah gaya hidup,” ujarnya.

Dia menyarankan, perubahan gaya hidup harus dilakukan sedini mungkin sebagai investasi kesehatan masa depan. Termasuk pengendalian faktor risiko juga harus dilakukan sedini mungkin.

“Masyarakat harus memiliki kesadaran kesehatan agar tahu kondisi badannya, agar semakin mudah diobati sehingga tidak terlambat,” ujarnya.

Salah satu pencegahan tak kalah penting di samping mengubah gaya hidup adalah deteksi dini atau melakukan medical check up secara berkala. “Lakukan skrining minimal enam bulan sampai satu tahun sekali,” katanya.

Editor : Tuty Ocktaviany