Rumah: Tempat Keluarga Mengurai Beban dan Menemukan Kekuatan
JAKARTA, iNews.id - Pernahkah Anda merasa, sesampainya di depan pintu rumah setelah seharian beraktivitas, ada helaan napas panjang yang keluar begitu saja? Di luar sana, dunia memang sedang berlari sangat kencang. Ayah dan Ibu mungkin baru saja melewati hari yang melelahkan dengan target kantor yang menumpuk, sementara si kecil, si generasi Alpha, mungkin sedang bergelut dengan hiruk pikuk media sosial yang tidak jarang membuatnya merasa cemas.
Rumah seringkali kita anggap hanya sebagai bangunan fisik, tempat untuk menaruh barang dan merebahkan badan. Namun, di zaman yang penuh tekanan ini, fungsi rumah telah berubah. Dia adalah benteng terakhir bagi kewarasan kita.
Bayangkan sebuah rumah di mana kita tidak perlu berpura-pura menjadi kuat. Saat Ayah pulang dengan bahu yang lunglai karena tekanan kerja, atau saat anak pulang dengan mata berkaca-kaca karena perundungan di dunia maya, rumah harus menjadi "filter" pertama. Di sini, kita tidak dinilai dari seberapa besar pencapaian kita hari ini. Di benteng ini, setiap anggota keluarga diterima apa adanya. Inilah yang disebut dengan validasi, sebuah momen di mana keluh kesah dianggap sebagai bentuk kepercayaan, bukan sekadar komplain.
Para ahli menyatakan suasana hati kita juga dipengaruhi oleh bagaimana kita mengatur isi rumah. Desain interior bukan hanya soal terlihat mewah di foto, tapi soal bagaimana dia menyembuhkan penghuninya.
Mungkin itu adalah sebuah kursi empuk di sudut ruangan dengan lampu yang hangat, tempat kita bisa duduk diam sejenak untuk menenangkan pikiran sebelum mulai menyapa anggota keluarga lain. Atau, meja makan yang bebas dari gawai, tempat semua orang duduk setara tanpa sekat, saling bercerita sambil menikmati hidangan. Bahkan, hal sederhana seperti membiarkan sinar matahari masuk melalui jendela besar dan memastikan aliran udara segar tetap terjaga, secara ilmiah mampu mengusir benih-benih depresi dan memperbaiki suasana hati.