Selain Lahirkan Bayi Prematur, Ini Risiko Menikah di Usia Muda yang Harus Diwaspadai

Siska Permata Sari ยท Senin, 04 Mei 2020 - 13:31 WIB
Selain Lahirkan Bayi Prematur, Ini Risiko Menikah di Usia Muda yang Harus Diwaspadai

Menikah di usia muda banyak risikonya seperti bayi lahir prematur. (Foto: AFP/Loic Venance)

JAKARTA, iNews.id - Fenomena menikah muda atau usia dini masih terjadi di Indonesia. Data dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mengungkapkan satu dari sembilan wanita menikah sebelum berusia 18 tahun.

Akibatnya, hal tersebut juga berimbas pada tingginya angka kelahiran remaja, di mana remaja berusia 15-19 tahun sudah hamil dan melahirkan anak. Hal tersebut juga diungkapkan Kepala BKKBN dr Hasto Wardoyo, SpOG (K) di Webinar Launching www.siapnikah.org secara Live di YouTube, Senin (4/5/2020).

“Ada banyak sekali kelahiran setiap tahunnya yang terlahir dari orang-orang yang usianya masih 15 sampai 19 tahun. Ini jumlahnya banyak, setengah jutaan,” tuturnya.

Dia menjelaskan, wanita yang masih sangat muda mempunyai potensi melahirkan anak yang ukurannya di bawah normal atau stunting.

“Selain itu, berpotensi juga banyak bayi yang lahir prematur atau lahir sebelum waktunya. Inilah risiko-risiko di mana kita mempunyai calon-calon bayi yang lahir sudah tidak sesuai standar,” ujarnya.

Tak hanya berpotensi melahirkan bayi stunting dan prematur, wanita yang melahirkan di usia muda juga berisiko terkena gangguan hipertensi selama kehamilan, fistula, anemia, hingga risiko tinggi kematian neonatal.

Oleh sebab itu, kata dia, penting untuk mengunakan mindset generasi milenial dan generasi Z untuk menghindari pernikahan di usia dini. Selain itu juga mengedukasi anak-anak muda terkait persiapan menikah dan mengasuh anak (parenting).

“Jadi yang pertama, secara psikologis harus siap, kemudian kemampuan ekonomi, dan yang berikutnya siap secara biologis. Jika secara biologis sudah siap, maka Insyaallah juga semuanya akan menjadi baik,” katanya.

Editor : Tuty Ocktaviany