Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Tidur Tak Pernah Nyenyak? Hindari Kebiasaan Ini Sebelum Istirahat
Advertisement . Scroll to see content

Susah Tidur 3 Kali Seminggu Selama 3 Bulan, Apakah Insomnia?

Rabu, 12 Agustus 2026 - 21:20:00 WIB
Susah Tidur 3 Kali Seminggu Selama 3 Bulan, Apakah Insomnia?
Tidak setiap kondisi sulit tidur otomatis dapat disebut sebagai insomnia karena gangguan tersebut memiliki kriteria tertentu. (Foto: Ilustrasi AI)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Susah tidur kerap dianggap sebagai tanda seseorang mengalami insomnia. Padahal, tidak setiap kondisi sulit tidur otomatis dapat disebut sebagai insomnia karena gangguan tersebut memiliki kriteria tertentu.

Edukator sekaligus pelatih tidur Vishal Dasani mengingatkan masyarakat agar tidak sembarangan melakukan diagnosis terhadap kondisi tidur yang dialami. Menurut dia, tidur yang terganggu dan gangguan tidur merupakan dua hal yang berbeda.

“Kayaknya sekarang kata insomnia sudah jadi istilah untuk semua masalah tidur. Susah tidur semalam, ‘Gua insomnia’, kebangun jam 3 pagi, ‘Insomnia gua kumat’. Padahal tidur yang terganggu sama gangguan tidur itu adalah dua hal yang berbeda,” kata Vishal, dikutip Rabu (12/8/2026).

Susah Tidur Belum Tentu Insomnia

Vishal menjelaskan, seseorang bisa mengalami gangguan tidur sesekali karena berbagai faktor. Kondisi seperti stres, banyak pikiran, jadwal tidur yang tidak teratur hingga sakit dapat membuat kualitas tidur menurun.

Seseorang bisa saja mengalami beberapa malam sulit tidur, lebih sering terbangun atau merasa tidak segar ketika bangun pagi. Namun, kondisi tersebut belum otomatis menunjukkan insomnia.

“Dan akibatnya, beberapa malam jadi susah tidur? Bisa. Kebangun lebih sering? Bisa. Bangun enggak fresh? Juga bisa. Tetapi itu belum otomatis berarti kamu punya insomnia. Insomnia itu ada kriterianya,” ucapnya.

Kapan Susah Tidur Bisa Disebut Insomnia?

Vishal mengatakan insomnia, khususnya insomnia kronis, memiliki kriteria yang perlu diperhatikan. Salah satunya adalah kesulitan tidur meski seseorang sebenarnya memiliki waktu dan kesempatan yang cukup untuk beristirahat.

Kondisi tersebut terjadi setidaknya tiga malam dalam satu minggu selama tiga bulan berturut-turut. Gangguan tidur itu juga sudah berdampak terhadap aktivitas atau fungsi seseorang pada siang hari.

Dengan demikian, frekuensi dan durasi menjadi hal penting dalam membedakan masalah tidur sesekali dengan insomnia kronis. Seseorang tidak seharusnya langsung memberikan diagnosis terhadap dirinya hanya karena mengalami satu atau dua malam sulit tidur.

Tidak Semua Gangguan Tidur adalah Insomnia

Vishal juga menekankan tidak semua gangguan tidur dapat dikategorikan sebagai insomnia. Ada berbagai kondisi lain yang dapat menyebabkan seseorang mengalami masalah tidur.

“Dan satu lagi, enggak semua gangguan tidur adalah insomnia. Ada sleep apnea, restless legs syndrome, ada jet lag, ada shift work disorder, ada DSPD, ada ASPD, ada narkolepsi, dan masih banyak lagi,” ujar Vishal.

Karena itu, jika kesulitan tidur terjadi berulang kali dan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, kondisi tersebut sebaiknya tidak diabaikan. Pemeriksaan oleh tenaga kesehatan diperlukan untuk membantu mengetahui penyebab dan jenis gangguan tidur secara tepat.

Editor: Dani M Dahwilani

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut